Tim Persib Itu Bak Pendulum, Sekali Berayun Akan Tetap Mengayun. Tetapi dengan Penundaan Kompetisi, Bagaimana Nasib si Pendulum?

Sabtu, 3 Oktober 2020 17:52 WIB

Share
Para pemain Persib Bandung yang sudah siap bertanding dalam lanjutan Kompetisi Liga Indonesia 1, terpaksa harus menunda hasratnya untuk bertanding. PSSI memutuskan lanjutan LI 1 ditunda. (Foto: Persib

 

BANDUNG, (POSKOTAJABAR).

 

Bak sebuah pendulum. Sekali diayunkan akan terus berayun. Ia bekerja tak sendirian. Dengan beban yang dimilikinya, sebuah pendulum akan lebih dulu ditarik ke belakang lalu membagikan energi kepada yang lain untuk kemudian berayun ke depan. 

Seperti itulah barisan pemain Persib Bandung. Lini tengah bekerja layaknya pendulum tersebut. Saat tim mendapat tekanan, seorang gelandang akan bergerak mundur untuk membantu lini belakang. Lalu, ia akan berusaha merebut bola dari penguasaan lawan.

Maka, sebuah sergapan dilakukan di saat lawan berusaha untuk menyodorkan bola kepada rekannya di depan. Ini saatnya untuk balas menyerang. 

Persib Bandung yang dilatih Robert Rene Alberts dengan ke dalaman tim yang dimiliki, punya sederet pemain dengan kemampuan mengemban tugas seperti layaknya pendulum tersebut. Dari mulai pemain lokal binaan Diklat Persib hingga berkelas internasional, ada di sana. 

Ardi Maulana, Beckham Putra Nugraha, dan Gian Zola Nasrullah adalah beberapa pemain jebolan Diklat Persib yang dilengkapi skill olah bola tinggi, sehingga mumpuni dalam bekerja layaknya pendulum. 

Begitu juga para lulusan sebelumnya seperti Dedi Kusnandar dan Abdul Aziz di tim asuhan pelatih asal Belanda saat ini. Daftar itu berakhir pada diri Omid Nazari sebagai pemain asing, dan Kim Jeffrey Kurniawan yang beberapa pekan ini harus menepi karena cedera. 

Dalam persiapan menuju bergulirnya kembali Kompetisi Sepak Bola Shopee Liga Indonesia (LI) 2020, Robert Rene Alberts kerap mengubah komposisi lini tengahnya. Beberapa waktu lalu, ia sempat berujar jika kerangka tim sebagai modal untuk mengarungi kompetisi, telah dikantongi.

"Tidak ada susunan starter yang pasti. Bisa saja ada gambaran, tapi masih dapat berubah karena berbagai hal," kata pelatih Robert Rene Alberts. 

Kenyataannya, sepak bola memang bukan permainan yang bisa dihitung secara pasti demi meraih hasil yang diinginkan. Banyak kejutan yang ada di dalamnya, termasuk penundaan kompetisi yang seharusnya sudah bisa berjalan saat ini. Kompetisi Sepak Bola Shopee Liga Indonesia (LI) 1 yang seharusnya sudah bergulir lagi, pun ditunda lagi menyusul kasus Covid-19 yang semakin merebak. Ini pun kejutan lain dari sebuah sepak bola.

Namun, langkah antisipasi harus tetap diambil. Tim dan setiap bagian di dalamnya akan tetap fokus pada tugas masing-masing saat bertarung di lapangan hijau nanti, tak terkecuali para pemain di lini tengah, kendati kompetisinya masih belum pasti.

Selain teknik tinggi, para pemain tersebut juga dituntut memiliki rasa saling pengertian, percaya kepada pemain lain dan bertanggung jawab akan irama permainan yang dialunkan tim di pertandingan. 

Bagi Omid Nazari dkk, setumpuk pekerjaan tersebut tak mengenal batas waktu, yang akan usai suatu saat karena setiap faktor pendukung di dalam pekerjaan itu butuh dilatih terus menerus. Terlebih lagi jika para pemerannya tidak sebatas hanya satu atau dua orang saja. 

"Sebenarnya kami sudah mengetahui bagaimana mereka bermain tapi tetap harus menyatukan lagi chemistry. Setiap ada kesempatan bermain, kami selalu berusaha bekerja lebih baik lagi, dan itu bagus, " kata Omid Nazari, beberapa waktu lalu.

Lantas, karena kompetisi yang harus mereka jalani ini ditunda, pendulum itu juga harus terhenti? Pelatih, para pemain, para ofisial, dan para pendukung tim Pangerann Biru itu pasti sudah mempunyai jawabannya. (nang’s/pandu persada/persib.co.id.)

 

Reporter: Setiawan
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler