Bimbo, Selasar Bagi yang Tersasar dan Penyejuk Bagi yang Merajuk

Kamis, 18 Februari 2021 11:14 WIB

Share
(Foto: wikipedia.org)

Menurut Acil, dirinya terilhami saat sedang berkunjung ke Singapura pada medio tahun 1971. Waktu itu kebetulan menjelang hari Natal, dan di Singapura hampir semua tempat selalu memutar lagu-lagu keagamaan, sehingga memberikan ambience suasana religi yang begitu kental. Kemudian Acil, Sam dan Jaka sepakat agar suasana keagamaan macam itu dibawa ke Indonesia, khususnya saat momentum hari raya umat islam tiba.

Lazimnya, kasidah yang hidup di masyarakat kita kala itu selalu berasosiasi dengan lagu-lagu berbahasa arab, dengan iringan rebana yang bunyinya datar dan harmonisasinya sulit dikerjakan. Lalu Bimbo ingin mengubah kesan lagu kasidah dengan alunan musik seperti itu menjadi lebih harmoni, dengan ditambahkan berbagai instrumen modern.

Namun, untuk hal lirik, lagu kasidah tak cukup hanya indah, tetapi juga harus khidmat, syahdu dan bernyawa. Bimbo pun menyadari kekurangannya dalam hal ini. Kapasitas mereka dalam menyusun lirik belum sampai taraf itu. Lalu, kedekatan mereka dengan para sastrawan di Taman Ismail Marzuki, membuat Taufiq Ismail akhirnya turun tangan.

Tercatat ada 10 lagu pada album kasidah pertama BImbo ; delapan lagu diantaranya ditulis oleh Taufiq Ismail, dua lagi adalah lagu ‘Tuhan’ dibuat oleh Sam dan lagu ‘Cerita untuk orang yang lupa’ milik Iwan Abdurrahman.

Namun hal ini bukan tanpa hambatan. Lagu kasidah Bimbo sempat dipertentangkan oleh beberapa kalangan umat islam tertentu. Sebab istilah kasidah sudah dianggap terminologi khusus yang terlalu aneh jika dikombinasikan dengan unsur pop yang selama ini diusung oleh Bimbo.

Hal tersebut dikhawatirkan dapat menodai segi-segi nilai keagamaan dalam musik kasidah itu sendiri. Perdebatan diantara kalangan ulama pun muncul. Namun, setelah Buya Hamka yang menjabat ketua MUI kala itu menyatakan kasidah tak ada kaitannya dengan agama, dan akhirnya perdebatan pun reda dengan sendirinya.

Dan untuk meredakan isu yang panas ini, Acil bahkan mesti memberikan pledoi pembelaan dalam acara MTQ VIII di Palembang. Dia menegaskan apa yang dilakukan Bimbo dengan melahirkan kasidah berbahasa Indonesia, tidak lain agar pendengar dapat memahaminya dengan mudah. “Sasaran kami lagu-lagu kasidah tersebut bisa populer di kota besar, yaitu masyarakat yang amat mudah dan cepat menerima komunikasi dari luar,” tutur Acil dalam Pledoinya yang dimuat Majalah Variasi.

Bimbo adalah jalan panjang yang melegenda. Selama lebih dari 50 tahun berkarya dalam dunia musik, mereka melahirkan sekitar 800 lagu dalam 200 album. Dengan berbagai macam genre seperti Pop, Keroncong, Dangdut, Klasik Melayu, Pop Sunda, dan tentu saja lagu-lagu rohani yang bisa menjadi selasar bagi jiwa-jiwa yang tersasar dan penyejuk bagi hati-hati yang sedang merajuk. (ES)
 

Halaman
Reporter: Edi
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler