Tatkala Sang Jurnalis Memuisi Terbawa Naluri, Bisa Terjadi Campur Kode Dua Talenta

Minggu, 21 Februari 2021 17:52 WIB

Share

TATKALA sang jurnalis memuisi, kadang bisa terjadi “campur kode” dua talenta. Saat menulis karya jurnalistik, terutama feature atau kolom, nalurinya sebagai pencinta diksi puitis menyeruak masuk. Sebaliknya, sewaktu menuntaskan hasrat menuangkan gagasan ke dalam karya sastra, seperti puisi, naluri jurnalisnya pun ikut membayangi.

Statemen di atas agaknya tepat dialamatkan kepada Amir Machmud NS. Kolom-kolom sepak bolanya, tak pelak lagi menunjukkan kemampuannya berpuitis ria sembari menyentuh rasa para pembacanya begitu kuat terpatrikan. Dan, ketika dia menulis puisi, gaya penulisan jurnalistiknya tetap menyisakan jejak.

Sungguh tepat jika Ramon Damora, penyair peraih Jembia Emas 2020, yang berdomisili di Kepulauan Riau, menyebut buku kumpulan puisi Amir Machmud NS yang bertajuk Percakapan dengan Candi ini sebagai “reportase puitis” terhadap senarai khazanah situs candi-candi di Jawa Tengah.

Judul buku      : Percakapan dengan Candi (Kumpulan Puisi)

Penulis            : Amir Machmud NS

Penerbit           : Mimbar Media Utama Semarang

Cetakan           : Pertama (2021)

Tebal buku      : xvi + 107 halaman, 15 x 21 cm

Sementara itu Handry TM, pemenang utama Lomba Puisi Esai Asia Tenggara 2019, meyakini puisi-puisi Amir dalam antologi ini berdasarkan catatan pikiran yang telah lama tersimpan. Dan, ledakan produktivitas pada rentang kurun penciptaan 2020-2021 menunjukkan kegairahan penyair saat berada di puncak pengalaman sastrawinya.

BACA JUGA:  Salut Kesadaran Suporter, Munculkan Semangat Melahirkan Suporter Indonesia Bermartabat

Halaman
1 2 3 4 5
Reporter: Setiawan
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler