Tatkala Sang Jurnalis Memuisi Terbawa Naluri, Bisa Terjadi Campur Kode Dua Talenta

Minggu, 21 Februari 2021 17:52 WIB

Share

Selanjutnya, hembusan kekuatan narasi itu makin terasa kuat dalam jalinan kisah kasih Rakai Pikatan dengan Pramodyawardhani lewat “Awan Tipis Membalut Candi”. Masih dengan memainkan kalimat interogativa (pertanyaan), Amir menghidupkan imajinasinya dalam ziarah cinta di Candi Plaosan.

BACA JUGA:  Kisah Kubilai Khan, Sang Kaisar Mongol yang Dinilai Kejam Namun Toleran

//kau simakkah batu-batu candi berselimut awan?/tipis magis berpayung alam/bening embun melumur rerumputan/cahaya belum sempurna menyiram pagi//

//di pelataran itu samar-samar bersijingkat/langkah anggun Pramodyawardhani/Rakai

Pikatan gagah mengikuti/o, inikah candi cinta/yang menyempurnakan mahkota rasa/kuil

pemuja bertabur wangi bunga?//

Bait selanjutnya, Amir mengintertektualitaskan dengan kisah Bandung Bandawasa dan Rara Jonggrang:

//dalam terang memanjat/bebatuan bermandi matahari/menggenapi penyatuan paripurna/bukan, bukan seperti kisah Bandung Bandawasa/dengan sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi/yang tersusun tergesa/menanda hasrat tak sampai/persembahan yang terbengkalai/Rara Jonggrang menampik asmara sang kesatria//

Sebaliknya, cinta Rakai Pikatan tidak bertepuk sebelah tangan. Pramodyawardhani pun nglanggati dengan energi asmara yang sama besar.

//di Candi Plaosan/Sang Rakai memprasastikan cinta/Rani Tanah Jawa meruntuhkan perintang/sejoli yang melawan sekat keyakinan/menguarkan aura kelembutan/: tentang asmara yang bermahkota daya rasa/cinta yang mengikat tenaga hasrat//

Halaman
1 2 3 4 5
Reporter: Setiawan
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler