Tatkala Sang Jurnalis Memuisi Terbawa Naluri, Bisa Terjadi Campur Kode Dua Talenta

Minggu, 21 Februari 2021 17:52 WIB

Share

//kau hayatikah dengan bening mata hati/pucuk-pucuk candi menjulang/meraih langit asa/menegaskan jiwa yang menyatu/sempurna mengangkasa// (halaman 85-86).

Masih banyak puisi lain menawarkan kerlingan estetika yang menukik ke palung rasa, terutama (setidaknya menurut pilihan subjektif saya) trilogi percakapan hati Rakai Pikatan, Pramodyawardhani, dan Samarotungga. Penasaran bukan?

Membacai puisi-puisi dalam antologi ini, benar memang kata Ramon Damora, kita akan mendengar solilokui yang riang dan syahdu serta monolog intim-sublim. (Fauzan Haidar/PoskotaJateng)

BACA JUGA:  Dalam Setiap Sudut Gelap Kisah Asmara Kita, Ada Glenn Fredly di Sana

Halaman
Reporter: Setiawan
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler