Sepenggal Kisah Tentang Darso, Si Raja Pop Sunda yang Lagunya Kerap Mewarnai Kisah Asmara Kita
Kamis, 25 Februari 2021 11:49 WIB
Share
Dedikasi Darso terhadap dunia seni, khusunya musik sunda, telah berhasil menjadikannya sebagai The King of Pop Sunda (Foto: ritainblog.blogspot.com)

POSKOTA JABAR, BANDUNG

Bagi masyarakat sunda, Darso merupakan seniman yang sangat fenomenal. Gayanya yang unik bahkan nyentrik kerap menyihir siapa saja yang melihatnya. Kacamata hitam dan baju panggung ala-ala Michael Jackson adalah trade marknya.

Alunan calung yang dikombinasikan dengan instrumen musik modern juga bagian yang tak terpisahkan dari lagu-lagu pop sunda yang dibawakannya. Baru melihat penampilan dan kostum panggungnya saja dijamin kita akan langsung tersenyum. Belum lagi bila menyelami lebih dalam lirik-lirik lagunya, sudah pasti kita akan makin terpukau.

Apalagi jika melihat penampilan Darso secara langsung, pasti lebih seru lagi. Aksinya di atas panggung yang nyeleneh, eksentrik dan kocak benar-benar berhasil menjadikannya sebagai sosok seniman sejati, yang banyak dicintai.

BACA JUGA: Mengenang Kang Ibing, Seniman Multitalenta yang Sosoknya Melegenda di Tatar Sunda

Dedikasinya terhadap dunia seni, khusunya musik sunda, telah berhasil menjadikannya sebagai The King Of Pop Sunda, sebuah julukan yang rasanya tidak berlebihan untuk disematkan padanya. Selama kurang lebih 45 tahun berkarya di musik pop sunda, Ia sudah menghasilkan sugudang karya, setidaknya sudah 300 album dia hasilkan.

Beberapa diantaranya adalah lagu yang sangat fenomenal dan masih digemari hingga saat ini, walau dirinya telah tiada. Lagu-lagu seperti Dina Amparan sajadah, Kabogooh Jauh, dan Maribaya merupakan lagu pop sunda yang wajib dinyanyikan disetiap penampilannya. Diluar panggung, Darso dikenal sebagai pribadi yang jenaka dan sangat bersahaja, santun dan mudah bergaul dengan kalangan mana saja.

Darso memulai karier sebagai pemain bass pada grup musik Nada Karya dan Nada Kencana. Sempat bergabung dengan band milik Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Ia berhenti karena terkena imbas peristiwa G 30 S/PKI. Pada tahun 1968 ia memulai lagi kariernya lagi bersama sang kakak Uko Hendarso, menggarap musik dengan instrumen utama yaitu "calung" salah satu lagu yang diminati waktu itu "kiamat'.

BACA JUGA: Catatan Sejarah 25 Februari: Hari Lahirnya George Harrison, Personil The Beatles yang Paling Pendiam

Lalu atas arahan S. Hidayat, Darso diajak untuk tampil di RRI bersama grup Baskara Saba Desa. Di bawah naungan Asmara Record, dan memulai rekaman yang dirilis dalam bentuk pita kaset. beberapa lagu yang terkenal yaitu "kembang tanjung", "cangkurileung", dan "panineungan".

Halaman
1 2 3
Reporter: Edi
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler