Muamar Khadafi, Sang Diktator Pemimpin Libya yang Berkuasa Lewat Kudeta

Senin, 1 Maret 2021 14:17 WIB

Share
(Foto: Pinterest.com)

POSKOTA JABAR, BANDUNG  

Sebutan ‘Si Anjing Gila’ yang kerap diesematkan media-media barat kepada kolonel Muammar Mohammed Abu Minyar al-Khadafi. Pasalnya, sepanjang empat dekade lebih Khadafi memimpin Libya, ia dikenal sebagai orang yang selalu membangkang terhadap dunia barat. 

Khadafi berhasil naik ke tampuk kekuasaan Libya melalui sebuah pemberontakan di Benghazi, kota di timur Libya. Aksi pemberontakan itu tak menuai perlawanan berarti dari raja Libya saat itu, Idris I, yang saat itu tengah menjalani perawatan medis di Turki.

Pemberontakan yang dikenal sebagai Gerakan 1 September itu dilakukan oleh kelompok Gerakan Perwira Bebas (Free Officers Movement) pada 1 September 1969. Kolonel Muammar Khadafi bersama 70 orang perwira militer Libya, kemudian mendeklarasikan penghapusan sistem monarki. Dalam tempo 2 jam, kudeta berhasil dilakukan di Benghazi yang kemudian disusul Tripoli dalam beberapa hari selanjutnya. Kudeta berjalan tanpa adanya korban.

BACA JUGA: KPK Kembali Memeriksa Lima Orang Saksi dalam Kasus Walikota Cimahi Non-Aktif Ajay Mochamad Priatna

Pasca Gerakan Perwira Bebas berhasil melangsungkan kudeta, 12 anggota di bawah naungan Dewan Komando Revolusioner (RCC) ditunjuk. RCC merupakan badan pelaksana pemerintahan setelah kudeta. Dalam visinya, RCC hendak menjadikan Libya sebagai negara bebas dan berdaulat bernama Republik Arab Libya. RCC juga berfokus pada kebebasan, persatuan, keadilan sosial, kesetaraan hak warga negara, serta menyediakan lapangan pekerjaan bagi setiap warga.

Kemudian kudeta pun melambungkan nama Khadafi di percaturan politik nasional. RCC kemudian memberi jabatan sebagai Panglima Tinggi Angkatan Bersenjata. Pada Januari 1970, Khadafi ditunjuk sebagai Perdana Menteri.

Pada masa awal pemerintahannya, Khadafi menghapus Konstitusi Libya 1951. Khadafi beralasan konstitusi tersebut merupakan peninggalan kolonial. Untuk memastikan pemerintahannya berjalan dengan baik, Khadafi menulis manifesto yang termaktub dalam The Green Book. Pada intinya, The Green Book berupaya menempatkan dunia pada revolusi politik, ekonomi, dan sosial agar membebaskan masyarakat dunia dari penindasan.

BACA JUGA: Sepenggal Kisah Tentang Kiai Sadrach, Penyebar Ajaran Kristen Abangan di Tanah Jawa

Seperti ditulis oleh Lillian Craig Harris dalam Libya: Qadhafi’s Revolution and the Modern State (1986), Khadafi memadukan Islam ortodoks, sosialisme revolusioner, serta nasionalisme Arab dalam menciptakan sistem pemerintahan anti-Barat di Libya.

Khadafi tak ragu untuk bertindak tegas pada negara asing. Contohnya saat Khadafi meminta Amerika dan Inggris memindahkan basis militernya, menguasai ladang minyak asing, serta mengusir orang-orang Yahudi atau Italia.

Halaman
1 2 3
Reporter: Edi
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler