Muamar Khadafi, Sang Diktator Pemimpin Libya yang Berkuasa Lewat Kudeta

Senin, 1 Maret 2021 14:17 WIB

Share
(Foto: Pinterest.com)

Sementara untuk bidang perekonomian, peran swasta bisa dibilang besar kecuali di produksi minyak, perbankan, dan asuransi. Atas dasar tersebut, Khadafi sebagaimana dituturkan dalam The Green Book edisi kedua, perlahan menghapuskan segala campur tangan swasta dalam perdagangan, sewa, dan upah karena hal itu dianggap eksploitasi.

Khadafi pun melarang kepemilikan tempat tinggal lebih dari satu, mengubah perusahaan perorangan menjadi perusahaan negara, membentuk pasar rakyat yang menjual kebutuhan sehari-hari dengan harga murah, sampai membatasi akses individu ke rekening bank guna menarik dana pribadi untuk program pemerintah.

Pemerintahan Khadafi pun kerap membiayai berbagai kelompok teroris di dunia mulai dari gerilyawan Palestina, pemberontak Muslim Filiphina, hingga tentara Republik Irlandia. Pada medio tahun 1980an, Barat menyalahkannya atas berbagai serangan teroris di Eropa seperti meledaknya pesawat Pan-AM 103 yang melintas di atas Lockerbie, Skotlandia, dengan menewaskan 270 orang pada 1988.

BACA JUGA: Mengungkap Sisi Lain Dono Warkop yang Paradoks, Mulai dari Dosen, Aktivis, dan Penulis

Kemudian Khadafi pun meletakan kekuasaan sebagai Perdana Menteri pada tahun 1977. Setelah itu, Khadafi menjadi Pemimpin dan Penuntun Revolusi Libya. Sebuah jabatan yang melanggengkan posisinya dalam kediktatoran selama 42 tahun dan tameng politik dari desakan mundur masyarakat Libya.

Selama 42 tahun itu pula masyarakat Libya hidup dalam keadaan tak menentu. Diperkirakan 13 persen warga Libya menganggur dan lebih dari 16 persen keluarga tidak memiliki pendapatan tetap. Sedangkan kebebasan masyarakat Libya juga terbatasi. Menurut Freedom of the Press Index, Libya menjadi negara yang paling kerap melakukan sensor terhadap pemberitaan di Timur Tengah dan Afrika Utara pada tahun 2009 dan 2011.

Di sisi lain, keadaan justru berbanding terbalik, Khadafi malah mengumpulkan pundi-pundi kekayaan pribadi selama masa jabatannya. Seperti dilansir The New York Times, Khadafi dibantu kolega politik dan anggota keluarganya mengendalikan sejumlah perusahaan bisnis. Khadafi mengadopsi gaya hidup mewah seperti yang dilakukannya di Amerika saat membeli properti mahal, berinvestasi pada film Hollywood, serta mengadakan pesta pribadi dengan mengundang bintang ternama.

Sebagai respon akan kondisi tersebut, masyarakat Libya pun mulai menghimpun massa untuk menggulingkan rezim otoriter Khadafi yang korup. Kelompok Islamis yang terdiri warga sipil menuntut demokrasi dihidupkan.

Sejak akhir 2010, Timur Tengah dan Afrika Utara disapu gelombang revolusi. Pemerintahan diktator Ben Ali di Tunisia ditumbangkan rakyatnya sendiri, begitu pula Hosni Mubarak di Mesir. Peristiwa yang dikenal dengan Arab Spring ini akhirnya memicu gerakan massa besar-besaran di Libya untuk menjatuhkan Khadafi. Beberapa menteri Khadafi juga mengundurkan diri dan membentuk National Transitional Council (NTC) untuk mendesak PBB mengambil sikap terhadap Khadafi. 

BACA JUGA: Mengenang Kang Ibing, Seniman Multitalenta yang Sosoknya Melegenda di Tatar Sunda

Tak tinggal diam, Khadafi menanggapi gerakan massa dengan mengirimkan perlawanan militer. Bentrok antara Islamis dengan Nasionalis tak bisa dihindarkan. Korban berjatuhan di samping puluhan ribu masyarakat Libya mengungsi ke negara lain. Akan tetapi, peruntungan Khadafi tak berlangsung lama. Kelompok Islamis berhasil menguasai Tripoli dan memukul mundur pasukan Nasionalis.

Singgasana Khadafi baru mulai goyang ketika sejumlah negara Barat mulai campur tangan. Yang menguatkan desakan terhadap PBB adalah Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy.

Setelah NATO menyerbu Libya, Khadafi terpojok dan mengungsi ke kampung halamannya di kota Sirte. Sadar dirinya terdesak, Khadafi menawarkan negosiasi. Pasukan pemberontak menolaknya. 

Khadafi kemudian mengungsi dari Sirte ke Misrata, kota dekat Tripoli, bersama ratusan orang. Saat konvoi itu melaju, pesawat NATO kembali menjatuhkan bom. Human Rights Watch melaporkan lebih dari 100 orang anggota konvoi meninggal dunia. 

Khadafi pun akhirnya bersembunyi di pipa saluran pembuangan air. Musuh menemukannya. Khadafi diseret, didorong, diteriaki, dan digebuki pemberontak hingga babak belur. Demonstran kemudian memasukan Khadafi ke dalam ambulans untuk dibawa ke rumah sakit. Hanya beberapa menit sebelum sampai, Khadafi meninggal dunia.

Halaman
1 2 3
Reporter: Edi
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler