Memahami Hisab dan Rukyat Awal Bulan Ramadhan (Bagian-3)
Sabtu, 13 Maret 2021 12:33 WIB
Share
Tubagus Hadi Sutiksna atau yang lebih dikenal dengan Ki Falak bersama pihak-pihak terkait dalam satu kegiatan rukyat hilal. (Dok. Ki Falak)

Sebagian Ulama Menganggap Rukyat Al Hilal Adalah Wajib


Oleh: TUBAGUS HADI SUTIKSNA 


Rukyat al Hilal

RUKYAT adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni ketampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtima’ (konjungsi). Sebagian ulama menganggap rukyat al hilal adalah wajib. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Shumu li ru’yatihi wa afthiru liru’yatihi fain ghumma alaihi fa istakmiluhu tsalatsina yauman" (berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat tanggal, bila kamu tertutup oleh mendung maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban tiga puluh hari).

Lafadz liru’yatihi yang artinya karena melihat bulan, dipahami sebagian ulama bahwa penentuan awal bulan komariah dilakukan berdasarkan metode rukyat (melihat bulan) secara langsung. Sehingga, sering kita sebut madzhab rukyat, sedangkan sebagian ulama lain memahami lafadz liru’yatihi dimaknai bahwa kata melihat maksudnya dapat dilakukan secara perhitungan atau kita kenal juga dengan madzhab hisab.

Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Perlu diketahui, bahwa dalam kalender hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam.

Hilal adalah sabit bulan muda yang hampr-hampir hanya dapat dilihat setelah matahari terbenam setelah terjadinya konjungsi (Ijtima’, bulan baru astronomi). Jadi, rukyat bertujuan memastikan munculnya hilal bulan baru Hijriyyah.


Halaman
1 2 3
Reporter: Setiawan
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler