Berkah Ramadhan : Kenangan Puasa Sri Rahayu : Buka Bersama dengan Teman di Rumah Guru Ngaji
Sabtu, 24 April 2021 16:29 WIB
Share
Anggota DPRD Kabupaten Pangandaran dari Fraksi partai PDI Perjuangan. (foto:ist))

POSKOTAJABAR, PANGANDARAN. 
Tradisi ngabuburit dan berburu takjil sudah menjadi acap yang dilakukan kaum muslim pada saat jelang waktu berbuka puasa. Namun, tradisi ngabuburit tersebut tidak pernah dialami oleh Sri Rahayu S.Sos saat masih berusia 6 tahun tepatnya kelas1 SD.

Wanita kelahiran Sumbawa 02 Agustus 1967 itu yang kini duduk dikursi DPRD Kabupaten Pangandaran dari Fraksi partai PDI Perjuangan sejak usia 6 tahun tak pernah ngabuburit jelang buka puasa saat bulan Ramadhan tahun 1973 silam.

Saat dihubungi POSKOTAJABAR, Sri Rahayu mengaku, saat diusia 6 tahun, dirinya selalu menjalani puasa selama satu bulan full.

"Pada zaman itu sewaktu usia 6 tahun, saya rajin banget jalani puasa dan tak pernah batal puasa. Namun, di kampung halaman saya di kampung bugis Sumbawa waktu itu tidak ada yang namanya ngabuburit," ucapnya.

Bahkan setiap sore, kata dia, kalau menjelang buka puasa selalu kumpul dirumah guru ngaji bersama teman-teman lainnya untuk buka bersama.

"Kenangan semasa masih kecil yaitu menjalani puasa kalau buka puasa bersama teman dirumah guru ngaji," kenang Sri.


BACA JUGA: Bandel Mudik Petugas Paksa Kendaraan Pemudik Diputarbalikan


Selain itu, sambung dia, karena di sekitar rumah di Kampung Bugis tidak ada masjid sehingga kalau mau salat Tarawih harus ke masjid yang jaraknya cukup lumayan jauh. "Kalau mau salat tarawih, saya bersama orang tua harus jalan kaki dengan jarak tempuh sekitar 5 kilometer," ungkapnya.

Selain kenangan itu, kata Sri, ada kenangan lainnya dimasa kecil yaitu di cambuk pakai ekor ikan pari disaat telat ngangkut air buat guru ngaji.

"Waktu itu saya telat ambilin air, eh di cambuk pakai ekor pari, namun hal itu jadi kenangan bagi saya karena kerasnya seorang guru mendidik, kita pintar karena didikan seorang guru ngaji," tuturnya.
sejauh 5 kilometer 

Kalau sekarang, Sri mengatakan di kampung halaman di Kampung Bugis Sumbawa Nusa Tenggara Barat sudah ada masjid yang dekat dari rumah orang tua.

"Sekarang ada masjid yang dekat dari rumah, tidak jauh dari Mapolres Sumbawa Barat, waktu saya kecil mau ke masjid jauh banget jarak tempuhnya," jelasnya.

Sri menambahkan, didikan keras dari seorang guru baik di sekolah maupun di masjid guru ngaji membuat kita pintar baik mengaji Alquran maupun menghitung dan menulis.

"Lantaran didikan keras dari para guru dan kedua orang tua sehingga saya kini menjadi seorang wakil rakyat (DPRD), dan semoga selama menjadi anggota DPRD saya bisa memegang amanah rakyat," pungkasnya. (dry)




Reporter: Suherlan
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler