Tidsoptimist: Terlalu Santuy, Berikut Penyebabnya! 
Kamis, 29 April 2021 12:44 WIB
Share
Foto|Pinterest

POSKOTAJABAR,BANDUNG

Tidsoptimist adalah seseorang yang terbiasa terlambat karena terlalu santuy. la merasa yakin masih punya banyak waktu sehingga seringkali mengerjakan sesuatu dengan santai dan sering terlambat.

Sebuah studi dari laman michaelbliss membuktikan bahwa orang-orang yang sering terlambat mempunyai persepsi passage of time (skala ukuran untuk berialunya waktu) yang berbeda.

Ada harga yang harus dibayar atas kebiasaan itu. Beberapa di antaranya adalah terlewatnya waktu, pekerjaan jadi berantakan, hingga kegagalan dalam karier.

Dalam beberapa kasus, seseorang dengan kecenderungan tidsoptimist tidak menyadari bahwa ia memiliki sindrom tersebut. Namun, tanda-tanda tidsoptimist sangat mudah dikenali oleh orang lain di sekitarnya. Berikut ini penjelasannya yang perlu kamu ketahui.

Tidsoptimist bisa jadi berhubungan dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), yaitu kondisi yang ditandai dengan kebiasaan terlambat. Dengan demikian, sebagian besar penyebab tidsoptimist terfokus pada isu keterlambatan itu sendiri, antara lain:

  • Tidak memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik
  • Sering menganggap remeh suatu pekerjaan
  • Perilaku menunda-nunda yang dilakukan secara berulang sehingga menjadi kebiasaan
  • Perasaan yakin bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu

Beberapa kebiasaan di atas diyakini dapat memicu kebiasaan tidsoptimist pada seseorang. Jika terlalu lama dibiarkan, maka akan menimbulkan kerugian, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Tanda tidsoptimist lainnya ialah perilaku gelagapan, sering mengabaikan deadline, dan hasil pekerjaan yang acak-acakan di akhir.

Jika kamu merasakan atau menemukan tanda-tanda tersebut pada diri sendiri atau orang-orang terdekatmu, segera lakukan penanganan, bisa dimulai dengan refleksi diri atau menemui psikolog jika dirasa sudah sangat mengganggu.

Namun,Tidsoptimist ternyata tidak hanya memiliki dampak negatif yang merugikan. Namun, ada pula dampak positif yang menguntungkan bagi kedua belah pihak, pengidap dan orang lain di sekitarnya.

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler