Bupati Indramayu: Calon Kuwu yang tidak Terpilih Harus Legowo jangan Mencederai Proses Demokrasi

Jumat, 28 Mei 2021 10:08 WIB

Share
Deklarasi Damai Pemilihan Kuwu Serentak di wilayah Eks. Kawedanaan Jatibarang, Kabupaten Indramayu. (foto:Ist.)

INDRAMAYU, POSKOTAJABAR.CO.ID.

Ratusan Calon Kepala Desa (Kades) atau Kuwu  di wilayah Eks. Kawedanaan Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat,  Kamis (27/05/2021) mengucapkan ikrar atau Deklarasi Damai Pemilihan Kuwu Serentak di hadapan Bupati Indramayu, Hj. Nina Agustina di Gedung MUI Jatibarang. 

Bupati Indramayu, Hj. Nina Agustina mengatakan, Ikrar Damai Pemilihan Kuwu Serentak di Kabupaten Indramayu tahun 2021 digelar dengan tujuan untuk membangun terwujudnya kondusifitas tata sosial dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di wilayah Kabupaten Indramayu.

 Adapun peserta Pemilihan Kuwu Serentak di Kabupaten Indramayu tahun 2021 sebanyak 612 orang. Mereka tersebar di 171 desa dan 31 kecamatan.

Memaknai Ikrar Damai para calon kuwu tentunya tidak hanya sekadar momentum formalitas yang diekspresikan dalam tata  kelola kata semata. Tetapi lebih dari itu harus dimaknai sebagai upaya konkrit mewujudkan komitmen.

 “Komitmen  dalam rangka menciptakan bangunan tatanan sosial dalam koridor situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif,” ujarnya.

 Hal ini mengandung arti, setiap individu yang terlibat dalam ikrar, terdapat tanggung jawab moral dan hukum untuk merealisasikan diktum ikrar yang diucapkannya secara konsekuen dan nyata. Baik ke dalam  perilaku dirinya sendiri maupun untuk lingkungan sosialnya.

 "Perlu saya ilustrasikan, bahwa dari perspektif politis-sosiologis, di setiap level kontestasi politik  demokrasi. Baik pada level kontestasi politik demokrasi pemilihan presiden, legislatif, gubernur, bupati dan wali kota, tidak terkecuali pada level pemilihan kuwu, di titik akhir akan menghasilkan dua fakta yang berlawanan, yakni terpilih atau tidak terpilih, kalah atau menang," paparnya

Dalam konteks tersebut, kata Bupati Nina, setiap peserta kontestasi politik demokrasi di semua level, harus memiliki pemahaman yang sama atas konsekuensi tersebut.

"Untuk itulah saya berpesan kepada siapa yang nanti tidak terpilih agar  bersifat legowo. Jangan sampai pasca pemilihan kuwu terjadi insiden yang tidak perlu dan menciderai proses demokrasi sendiri. Terlebih melakukan gerakan anarkis dalam memprotes hasil perhitungan suara yang telah ditetapkan panitia pemilihan kuwu," terangnya.

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler