Ratusan Pabrik Tahu dan Tempe di Tasikmalaya Mulai Besok tak Berproduksi

Jumat, 28 Mei 2021 19:58 WIB

Share
Pengusaha pabrik Tahu Tempe memperlihatkan surat Aksi mogok produksi. (foto:Kris)

TASIKMALAYA, POSKOTAJABAR.CO.ID

Sebanyak 400 pabrik tahu dan tempe di Tasikmalaya mulai besok melakukan aksi mogok produksi, pasalnya banyak para perajin tahu dan tempe mengeluhkan naiknya kebutuhan bahan baku kedele impor sebesar Rp 11 ribu per kilogram dan berdampak kepada para perajin dan mulai berhenti produksi pada hari Sabtu dan Minggu (29-30/5/2021)

Pemilik pabrik dan perajin tahu, Nina Herdiana (47) warga Kampung Nagrog Kulon, Kelurahan Indihiang Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya mengatakan, kenaikan harga bahan baku kedele sangat dirasakan oleh para perajin, karena harganya tinggi dan tidak sebanding dengan produksi.

"Semua pabrik maupun perajin tahu maupun tempe sekarang terakhir bekerja, karena para pemain pabrik sudah menerima lembaran surat mulai besok Sabtu-Minggu, harus berhenti produksi dan berjualan. Namun sekarang hanya diperuntukan untuk para pelanggan yang ada pasar," katanya, Jumat (28/05/2021).

Ia mengatakan, produksi tahu yang dilakukan selama ini hanya mampu membeli kedele 50 kg setiap harinya diperuntukan bagi pelanggan dan konsumen termasuk nya pedagang pasar. Namun, sebelum kenaikan mampu membeli 150 kilogram dengan harga kedelai Rp 6.800, Rp 7.200 per kg dan merangkak naik menjadi Rp 8.200 hingga pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono memberikan subsidi dan mampu produksi 100 kilogram setiap hari.

"Kenaikan kedele impor terus merangkak naik hingga Rp 11.000 per kg membuat pedagang kelimpungan karena tidak ada subsidi dari pemerintah dan membuat produksi tahu berkurang. Kenaikan kedele, membuat para perajin harus mengurangi dari awalnya ukuran besar 800 biji menjadi 300 biji dan ukuran kecil 1.000 biji menjadi 700 biji," ujarnya.

Kenaikan kedele yang terjadi sekarang ini membuat para perajin di Kota, Kabupaten Tasikmalaya termasuk di Jawa Barat sangat keberatan. Karena, kenaikan yang terjadi selama ini tidak ada subdisi yang membuat perajin terpaksa harus mengurangi produksi.

"Kami meminta kepada pemerintah Daerah maupun Provinsi dapar memberikan subsidi di tengah pandemi Covid-19 agar para perajin tahu dan tempe bisa terus bekerja guna memenuhi kebutuhan pasar, pelanggan dan konsumen," paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Himpunan Pengrajin Tahu dan Tempe Tasikmalaya, Imin Muslimin mengatakan, kenaikan harga kedele impor selama ini memang mengalami kenaikan dan membuat para perajin tahu dan tempe tidak bisa memproduksi kembali dan para mereka juga kebingungan karena pemerintah sampai hari ini belum memberikan subsidi," pungkasnya. (Kris)

Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler