Obat Actemra bagi Pasien Covid-19 di RSHS  Bandung Habis

Sabtu, 10 Juli 2021 08:16 WIB

Share
Plt Direktur Utama RSHS, dr Irayanti. (foto:ist)

BANDUNG, POSKOTAJABAR.CO.ID

Ketersediaan obat jenis Actemra bagi pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, habis. Pihak Rumah Sakit telah menghubungi Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes) untuk pemenuhan kembali obat tersebut.

"Untuk APD dan obat-obatan kita masih tersedia tapi ada beberapa item yang kritis, semoga itu segera sampai," kata Plt Direktur Utama RSHS, dr Irayanti melalui keterangan pers yang diterima, Jumat (09/07/2021).

"Kita akan selalu meminta baik itu ke Kemenkes maupun pihak tertentu, dan juga persiapan RSHS sendiri terhadap obat-obat ini. Cuma memang yang
tidak ada itu adalah obat Actemra. Itu memang tidak ada, dan kita lagi mintakan juga ke Farmalkes. Kalau yang lain alhamdullah masih tersedia sampai satu bulan ke depan. Mudah-mudahan masih tersedia," tambahnya.

Selain itu, jelas Irayanti, keterisian tempat tidur di ruangan ICU terus mengalami kenaikan. Apabila dibandingkan saat bulan Mei lalu, perbandingannya mencapai 30 persen.

"Kemudian juga, di ruang isolasi biasa itu juga terjadi peningkatan 50 persen lebih. Ini memang kita melihat bulan Juni kemarin sampai bulan
Juli ini terjadi peningkatan pasien covid ini yang ada ke RSHS," ujarnya.

"Saat ini total tempat tidur di ruang ICU dan ruang isolasi bagi pasien Covid-19 mencapai 321 tempat tidur. Mereka yang dirawat dari berbagai
latar belakang usia yaitu pasien anak-anak dan dewasa muda," ujarnya menambahkan.

Banyaknya pasien kelompok dewasa muda yang dirawat, menurut Irayanti, disebabkan karena tingginya mobilitas yang mereka lakukan.

"Karena mungkin saja keterpaparan terhadap orang yang masih produktif ini tinggi karena masih melakukan aktifitas lebih banyak diluar rumah,"
katanya.

Maka dari itu, pihak RSHS bakal menambah jumlah relawan tenaga kesehatan (nakes) untuk merawat pasien Covid-19. Saat ini, RSHS bakal mengoptimaliasi terlebih dahulu para nakes non-Covid-19.

"Inilah yang kemudian juga kita mengkontrak tenaga tenaga yang diperlukan supaya bisa bagaimana terlayani semuanya," ujarnya.

"Melakukan penambahan relawan kita minta ke kemenkes dan sudah disetujui," tutupnya.

Actemra Rekomendasi WHO

Sebagaimana diketahui, Badan Kesehatan Dunia (WHO) beberapa waktu lalu telah merekomendasikan obat arthritis Actemra (tocilizumab) buatan Roche (ROG.S) dan Kezvara (sarilumab) dari Sanofi (SASY.PA) dengan corticosteroid bagi pasien Covid-19 setelah data dari sekitar 11.000 pasien menunjukkan kedua obat itu mengurangi risiko kematian.

Tim WHO yang mengevaluasi hasil terapi terhadap pasien kritis Covid-19 menggunakan obat jenis interleukin-6 itu mengatakan kedua obat tersebut mampu mencegah peradangan, "mengurangi risiko kematian dan kebutuhan akan ventilasi mekanis."

WHO melalui siaran pers menyebutkan bahwa langkah tersebut berdasarkan pada temuan dari meta-analisis prospektif dan jaringan hidup yang dipelopori oleh WHO, analisis obat-obatan terbesar hingga saat ini.

Ini adalah obat pertama yang ditemukan ampuh melawan Covid-19 sejak kortikosteroid direkomendasikan oleh WHO pada September 2020.

"Pasien Covid-19 parah atau kritis kerap mengalami reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh, yang dapat membahayakan sekali kesehatan pasien. Obat Interleukin-6 - tocilizumab dan sarilumab - bertindak untuk menekan reaksi berlebihan ini," bunyi siaran pers WHO. (Aris)
FOTO

Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler