Duduki Simpang Dago Sulanjana, Demonstran Tolak PPKM Darurat Kocar Kacir Dihalau Polisi

Rabu, 21 Juli 2021 19:00 WIB

Share
Massa aksi saat gelar demo tolak PPKM Darurat di Jl Wastukencana, Kota Bandung, Rabu, 21 Juli 2021. (Aris)

 

BANDUNG, POSKOTAJABAR.CO.IDPolisi terpaksa membubarkan massa aksi penolak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM Darurat) yang menduduki simpang Dago-Sulanjana, Kota Bandung, Rabu, 21 Juli 2021, sekitar pukul. 14.40 WIB.

Pasukan pengurai massa dikerahkan bersamaan dengan satu unit mobil water canon, akibatnya demonstran kocar kacir. "Adik-adik diharapkan untuk membubarkan diri, karena telah melanggar protokol kesehatan dengan berkerumun," ucap petugas melalui alat pengeras suara.

Kemudian, polisi bergerak melakukan tindakan tegas kepada para demonstran yang melakukan perlawanan, saat diminta bubar. Tak memakan waktu lama, demonstran yang berlarian ke arah Jalan Sulanjana.

Sebelumnya, ratusan massa aksi yang merupakan gabungan dari berbagai elemen masyarakat itu meneriakkan tuntutannya di tengah persimpangan jalan tersebut.

"Kami pedagang tidak bisa mencari nafkah karena PPKM Darurat ini. Kami pedagang meminta kepada pemerintah untuk menghentikan PPKM ini," ujar salah seorang orator.

Dari pantauan di lokasi diketahui, sejumlah peserta aksi terlihat mengenakan jaket pengendara ojek online. Tak hanya peserta aksi yang berusia dewasa, terlihat juga peserta berusia anak yang ikut dalam aksi tersebut.

Sebelum bergerak di perempatan jalan Dago - Sulanjana, massa aksi juga melakukan unjuk rasa di Balai Kota Bandung. Mereka meneriakkan tuntutan agar PPKM Darurat ini diakhiri.

Massa aksi yang demo di Jl Wastu Kencana ini terdiri dari mahasiswa, pelajar, ojek online, dan pedagang kaki lima.

Massa aksi demo karena menilai pemberlakuan PPKM yang dilakukan mulai dari pusat hingga daerah dianggap tidak berdampak terhadap pengendalian Covid-19 dan malah menyengsarakan masyarakat.

Massa aksi mulai mendatangi Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana sekitar pukul 12.00 WIB.

Mereka tampak membawa spanduk dan poster berisi protes PPKM darurat. 'Bandung sekarat, Wali Kota ngapain? PPKM membuat rakyat melarat' bunyi pesan dari spanduk yang dibentangkan massa aksi.

Peserta aksi juga tampak membentangkan poster berisi tulisan 'PPKM (Pelan-pelan Kita Mati)'.


Tak sampai di situ, massa aksi menggelar orasi memprotes penerapan PPKM. Mereka lantas bergemuruh meneriakkan 'Tolak, tolak, tolak PPKM. Tolak PPKM sekarang juga'.

Para demonstran mengungkapkan PPKM telah merampas hak hidup masyarakat tidak hanya di Ibu Kota tetapi juga di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Bandung. Kebijakan PPKM dianggap mematikan perekonomian di daerah.

Dodo (29), salah seorang pedagang di pusat perbelanjaan elektronik mengatakan PPKM telah menyengsarakan dirinya karena tidak bisa berjualan selama lebih dari dua pekan.

"Kami sangat dirugikan sebagai pedagang khususnya pedagang BEC. Kontrakan tetap harus dibayar, tidak ada keringanan, apakah ini solusinya? Ada aturan harusnya ada solusi istri," katanya.

Menurut Dodo, langkah pemerintah dan pihak kepolisian menutup jalan telah memutus perekonomian. Akibatnya, istri dan anaknya menderita kelaparan.

"Istri dan anak kami harus makan sementara bapak digaji enak. Penutupan jalan tidak efektif bagi kami," ujarnya.

Hal senada juga dikeluhkan Oha (24), ojek online. Lantaran, PPKM Darurat telah membuat pendapatannya berkurang lantaran biaya bahan bakar naik daripada biasanya

"Jalan ditutup kita tambah susah. Habis bensin banyak, kalau biasa Rp20 ribu, sekarang harus keluarin Rp35 ribu," tuturnya.

Oha berharap pemerintah membuka akses jalan agar pendapatannya kembali naik. "Saat PPKM sehari dapat Rp32 ribu, padahal biasa bisa sampai Rp100 ribu lebih," ucapnya. (Aris)

Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler