Ajay M Priatna : Ada Titik Terang, Uang Rp3,2 Milyar Bukan untuk Revisi IMB Tapi Milik PT Ledino

Kamis, 22 Juli 2021 13:32 WIB

Share
Terdakwa Walikota Cimahi (non aktif) Ajay M Priatna saat dikonfirmasi usai mengikuti sidang. (Foto: Bagdja)

CIMAHI, POSKOTAJABAR.CO.ID.
Terdakwa Ajay Mochamad Priatna, merasa bersyukur mulai ada titik terang dari persidangan yang selama ini berjalan menyangkut kasus yang menimpa dirinya. Ajay mengatakan hal itu saat dikonfirmasi setelah mengikuti persidangan Rabu, 21 Juli 2021.

"Alhamdulillah sidang hari ini semakin hari semakin terbuka. Tabir ini semakin terbuka. Tadi direktur rumah sakitnya dr Nuningsih mengatakan bahwa perjanjian fee koordinasi itu sudah ada dari bulan Maret. Sementara di bulan Maret, dia (dr Nuningsih-Red) belum memikirkan masalah revisi IMB, seperti yang dituduhkan kepada saya," ungkap Ajay.

Bahkan, kata Ajay, terkait pembayaran Rp3,2 Milyar dari nilai proyek Rumah Sakit Umum Kasih Bunda sebesar Rp32 Milyar, yaitu 10 persen tersebut bukan pembayaran untuk masalah revisi IMB, tetapi uang tersebut milik PT Ledino Perkasa atau milik Dominikus Djoni Hendarto.

"Disini saya perlu tegaskan, bahwa saya sama sekali tidak tahu tentang istilah fee koodinasi, seperti tertuang kontrak antara Djoni dan Rumah Sakit Umum Kasih Bunda (RSUKB). Yang saya tahu adalah sisa tagihan, dimana saya ada kerjasama usaha dengan saudara Djoni," terangnya.

Jadi, harapan Ajay dalam sidang masalah dirinya tersebut ada keadilan buat dia. "Mudah-mudahan ada keadilan buat saya. Seperti yang dituduhkan kepada saya uang Rp3,2 Milyar itu suap revisi IMB, itu tidak ada sangkut pautnya," ujar Ajay.

Terkait saksi-saksi yang dihadirkan adalah saksi dari RSUKB, menurut Ajay, saksi-saksi tersebut membeberkan berdasararkan fakta yang ada, 

"Memang berdasarkan keterangan mereka, bahwa perizinan diselesaikan oleh mereka secara normatif, tidak pernah minta tolong saya, dan saya pun tidak pernah dimintai pertolongan," kilah Ajay.

Menurut Ajay, dirinya juga merasa aneh, saat dirinya menanyakan sisa tagihan keoada Djoni yang Rp3,2 Milyar, bahwa menurut Djoni Rp1,6 Milyar, lalu kata Djoni RSUKB sudah transfer Rp250 Juta dipotong Pajak, sehingga menjadi Rp236 Juta. 

"Pada saat saya menanyakan kepada Djoni sisa tagihan yang katanya Rp1,5 Milyar yang kenyataannya ternyata Rp3,2 Milyar, dan sudah dibayar baru Rp250 Juta, dipotong Pajak jadi Rp236 Juta. Jadi, saya juga bingung dalam kasus suap yang disangkakan kepada saya kok ada pajaknya, ada invoice, ada kontraknya," tandas Ajay. (Bagdja).

Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler