Sidang Kasus Ajay Berlangsung 12 Jam, Saksi Yanti Sanggah Terima Uang dari Dominikus Djoni

Kamis, 22 Juli 2021 07:21 WIB

Share
Saksi-saksi dari RSUKB saat dimintai keterangannya oleh JPU untuk dikonfrontir dengan Dominikus Djoni Hendarto (baju biru). (Foto: Bagdja)

CIMAHI, POSKOTAJABAR.CO.ID.
Sidang lanjutan kasus Walikota Cimahi (non aktif) Ajay Mochammad Priatna mulai digelar kembali. Sidang yang berlangsung di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung Jawa Barat memakan waktu yang panjang, dimulai sekira pukul 10.00 WIB dan selesai pukul 22.30 WIB, Rabu, 21 Juli 2021 atau lebih dari 12 jam.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Majelis Hakim I Dewa Gede S, SH, MH, dengan nnggota Sulistiono, SH, MH dan Lindawati, SH, MH, menghadirkan saksi-saksi dari Rumah Sakit Umum Kasih Bunda (RSUKB). Karena sakit, saksi Hutama Yonathan yang juga sebagai Komisaris Utama, dalam persidangan tersebut dihadirkan secara virtual dari Rumah Tahanan (Rutan) Sukamiskin.

Sedangkan saksi lainnya, Nuningsih (istri dari Hutama Yonathan) sebagai Direktur RSUKB, Cynthia Gunawan sebagai Administrasi Umum dan Keuangan RSUKB, Yanti Rahmayanti sebagai Bendahara Keuangan PT Trisakti Manunggal Perkasa milik Ajay, Dominikus Djoni Hendarto Dirut PT Ledino Mandiri Perkasa, dan Marshal hadir langsung di PN Tipikor Bandung.

Sidang dimulai dengan pemeriksaan saksi pertama Nuningsih oleh pihak Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Budi Nugraha, SH, MH, Tito, SH, MH, Yulinda, SH, MH dan Ridwan, SH, MH.

Nuningsih dipertanyakan masalah fee koordinasi yang diserahkan kepada Dominikus Djoni Hendarto sebesar Rp 250 Juta yang ditransfer ke rekening BCA, rekening pribadi Djoni. Selanjutnya, terkait penyerahan uang fee koordinasi tersebut diserahkan secara langsung oleh Cinthya kepada Yanti Rahmayanti, atas intruksi Ajay dan seijin Djoni, yang dibenarkan oleh Nuningsih.

Selanjutnya, kata Nuningsih, awalnya ia tidak setuju terhadap suaminya Hutama Yonathan yang harus menyerahkan uang sebesar Rp 3,2 Milyar. Uang baru diterima oleh Ajay sebesar Rp 1,6 Milyar.

Namun, kata Nuningsih, karena keresahan dari Hutama takut masalah revisi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) RSUKB tidak akan diterbitkan, bila uang fee koordinasi tidak segera dilunasi, akhirnya Hutama memaksa istrinya untuk memberikan uang fee koordinasi tersebut secara dicicil empat kali.

Akhirnya Nuningsih menyetujui permintaan Hutama tersebut, dan sisa dari uang yang pertama ditransfer ke Djoni sebesar Rp 250 Juta, setelah dipotong dengan PPH menjadi Rp 236 Juta, pada bulan Mei 2020. Selanjutnya pembayaran-pembayaran uang fee koordinasi itu pembayarannya secara langsung antara RSUKB dan Yanti Rahmayanti atas intruksi Ajay dan disetujui oleh Djoni.

Saat dikonfrontir dengan Hutama secara virtual, Hutama tidak merasa takut ijin tidak terbit.Kemudian, setelah dikonfrontir dengan saksi-saksi lainnya termasuk Marshal, Hutama hanya menjelaskan, "Itu hanya spontan saja berbicara seperti itu."

Saksi Cinthya juga membenarkan terkait dirinya sudah menyerahkan uang kepada Yanti, pada bulan Mei 2020 Cinthya mentransfer uang kepada Djoni sebesar Rp 250 Juta setelah dipotong PPH menjadi Rp 236 Juta Rupiah.

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler