Inilah 5 Fakta Menarik Seputar Olimpiade Tokyo 2020

Selasa, 27 Juli 2021 23:12 WIB

Share
Atlet angkat besi Indonesia Windy Cantika Aisah mengangkat beban dalam pertandingan Angkat Besi di Olimpiade Tokyo 2020. (foto: ist)

BANDUNG, JABAR.POSKOTA.CO.ID - Tokyo memiliki sejarah panjang dengan perhelatan olahraga internasional Olimpiade. Pada 1940, Olimpiade yang mestinya dihelat di Jepang batal karena Perang Dunia II. Lalu 40 tahun setelahnya, terjadi pemboikotan Olimpiade yang berlangsung di Moskow.

Kali ini, Olimpiade Tokyo 2020 diwarnai dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Banyak orang menyebut inilah kutukan Olimpiade yang terjadi setiap 40 tahun. Dan dua kali Jepang mengalaminya. Pada 1964, Tokyo juga menjadi tuan rumah Olimpiade.

Saat itu, pemerintah Jepang meminta kelonggaran untuk memundurkan pelaksanaan Olimpiade dari jadwal semula pada Juli sampai Agustus menjadi Oktober. Musababnya, Juli dan Agustus masuk periode musim panas dan udara begitu lembap.

Tokyo juga merupakan kota pertama di Asia yang menjadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade. Sekarang, mari kita simak beberapa fakta unik tentang Tokyo dan Olimpiade:

Stadion Nasional Jepang

Semula, adalah Zara Hadid, seorang arsitek blasteran Inggris - Irak yang membuat desain Stadion Nasional Jepang. Namun pemerintah akhirnya memilih desain arsitek Kengo Kuma yang dianggap lebih irit. Stadion Nasional Jepang memiliki luas lebih dari 200 meter persegi dan biaya pembangunannya mencapai 157 miliar Yen.Kengo Kuma membuat stadion ini lekat dengan unsur kayu di bagian luar dan dalam. Kayu-kayu tersebut berasal dari 47 prefektur di Jepang. Kengo Kuma menganalogikan struktur stadion seperti pohon. Dia memaksimalkan unsur sirkulasi udara supaya tidak boros menggunakan penyejuk udara.

 

Medali dari logam sampah gadget

Sebanyak 5.000 medali Olimpiade Tokyo terbuat dari logam mulia yang diekstraksi dari perangkat elektronik bekas. Jauh sebelum Olimpiade ini berlangsung, pemerintah Jepang meminta masyarakat mendonasikan barang-barang elektronik bekas, seperti ponsel sebagai bahan pembuatan medali Olimpiade dan Paralimpiade. Pengumpulan sampah gadget ini berlangsung selama dua tahun, yakni mulai April 2017 sampai Maret 2019. Hasilnya, 78.985 ton sampah gadget terkumpul dan jadilah medali-medali kebanggaan para atlet dan negara masing-masing.

 

Halaman
1 2
Reporter: Ririn
Editor: Ririn
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler