Joseph Mercola Dijuluki Penyebar Hoax Covid-19 Paling Berpengaruh, Siapa Dia?

Jumat, 30 Juli 2021 16:13 WIB

Share

BANDUNG, JABAR.POSKOTA.CO.ID - Nama Joseph Mercola masuk dalam daftar penyebar hoax seputar pandemi Covid-19 di media sosial Facebook. Pria berusia 67 tahun itu sebenarnya merupakan seorang dokter osteopathic di Cape Coral, Florida, Amerika Serikat, dan telah lama menjadi subjek kritik karena mempromosikan perawatan yang tidak terbukti atau tidak disetujui mengenai Covid-19.

“Joseph Mercola adalah penyebar misinformasi Covid-19 online yang paling berpengaruh,” demikian banyak peneliti menyebutnya, seperti dikutip Baltimoresun, 25 Juli 2021.

Salah satu artikel Mercola muncul secara online pada 9 Februari. Dimulai dengan pertanyaan yang tidak berbahaya tentang definisi hukum vaksin, tapi di dalam isinya, Mercola justru menyatakan bahwa vaksin virus corona adalah penipuan medis dan menganggap suntikan itu tidak mencegah infeksi, memberikan kekebalan atau menghentikan penularan penyakit.

Pernyataannya mudah dibantah. Namun, selama beberapa jam berikutnya, artikel itu diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Spanyol dan Polandia. Dan muncul di lusinan blog dan diambil oleh aktivis anti-vaksinasi, yang mengulangi klaim palsu secara online. Artikel itu juga sampai ke Facebook, di mana mencapai 400.000 orang, menurut data dari CrowdTangle, alat milik Facebook.

Seluruh upaya ditelusuri kembali, dan ternyata mengarah ke satu orang yaitu Mercola. Sebuah analisis yang dilakukan oleh New York Times menyebutkan bahwa Mercola merupakan pengusaha internet-savvy yang mempekerjakan puluhan orang, dan menerbitkan lebih dari 600 artikel di Facebook yang meragukan vaksin sejak awal pandemi.

Dia dan timnya menjangkau audiens yang jauh lebih besar daripada skeptis vaksin lainnya. Bahkan klaimnya telah banyak digemakan di media sosial lainnya seperti Twitter, Instagram, dan YouTube. “Mercola juga masuk dalam daftar 12 orang yang bertanggung jawab membagikan 65 persen informasi antivaksin di media sosial,” kata lembaga nonprofit Center for Countering Digital Hate.

Lainnya dalam daftar termasuk aktivis antivaksin lama Robert F. Kennedy Jr. dan pendiri situs web Health Nut News, Erin Elizabeth, yang merupakan pacar Mercola. Ada juga beberapa tokoh media terkemuka yang mempromosikan skeptisisme terhadap vaksin, terutama Tucker Carlson dan Laura Ingraham dari Fox News.

Menurut peneliti yang mempelajari teori konspirasi online dari University of Washington, Kolina Koltai, Mercola adalah pelopor gerakan antivaksin. “Dia ahli memanfaatkan periode ketidakpastian, seperti pandemi, untuk menumbuhkan gerakannya,” tutur dia.

Sekarang Mercola dan lainnya yang masuk dalam “Disinformation Dozen” menjadi sorotan karena vaksinasi di Amerika melambat, ditambah dengan Covid-19 varian Delta yang sangat menular telah memicu kebangkitan kasus infeksi. Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC menunjukkan lebih dari 97 persen orang yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19 belum divaksinasi.

Daripada secara langsung menyatakan bahwa vaksin tidak berfungsi, postingan Mercola sebenarnya sering memberikan pertanyaan tajam tentang keamanannya dan mendiskusikan studi yang sudah dibantah oleh dokter lain. Facebook dan Twitter telah mengizinkan beberapa unggahannya, tapi tetap dilabeli khusus.

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler