17 Ton Limbah Medis Covid-19 Perlu Penanganan yang Tepat, Inilah yang Dilakukan DLH Jabar

Sabtu, 4 September 2021 14:16 WIB

Share
Petugas tengah menyemprot limbah medis Covid-19 di rumah sakit sebelum diangkut ke tempat pembuangan. limbah medis harus ditangani sebaik mungkin. Tidak digabung dengan limbah domestik. (foto:Ist)

BANDUNG, POSKOTAJABAR.CO.ID

Di Jawa Barat, limbah medis yang timbul akibat Covid-19 per harinya bisa mencapai sebanyak 17 Ton-an. Dengan kuantitas sebanyak itu, limbah medis musti ditangani secara tepat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat (Jabar) Dr Ir Prima Mayaningtyas mengatakan, dengan jumlah sebanyak itu, limbah medis harus ditangani sebaik mungkin. Tidak digabung dengan limbah domestik. Setelah dipanaskan dengan insenerator abunya juga harus ditangani dengan baik.

"Sebab, limbah yang tergolong ke dalam bahan berbahaya dan beracun (B3) itu berpotensi menyebabkan infeksi bagi masyarakat dan lingkungan," katanya saat dihubungi via whatsapp, Jumat 3 September 2021.

Menurut Prima, dalam regulasi Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan N056 Tahun 2015, tata cara pengelolaan limbah B3 dilakukan dengan sistem pengurangan dan pemilahan. Tujuannya, untuk menghindari penggunaan material yang mengandung B3. Maka dilakukan tata kelola berdasarkan karakteristiknya.

"Kendalanya masih disamakan dengan limbah sampah domestik, seharusnya tidak seperti itu," ujarnya.

Untuk itu, Prima dengan tegas meminta para oknum yang selama ini kerap membuang limbah medis tidak sesuai prosedur agar berhenti melakukan perbuatan tersebut.  

"Kita sudah identifikasi dan bahkan dengan DLHK sudah lakukan penegakan hukum untuk oknum yang seperti itu," ungkapnya.

"Masyarakat juga diminta dapat melapor melalui aplikasi ECIS (Environmental Complaints Information System) apabila menemukan perbuatan semacam itu di lapangan," tambahnya.

Mengingat limbah medis yang timbul akibat Covid-19 jumlahnya sangat banyak. Di Jawa Barat saja, per harinya bisa mencapai 17 ton-an.

"Kami telah mengeluarkan Surat Edaran tentang tata kelola penanganan limbah infeksius B3 di fasyankes dan rumah tangga di Jabar sebagai antisipasi penyebaran Covid-19, lalu Gubernur juga mengeluarkan Surat Edaran. Setelah kita keluarkan edaran, kemudian kita verifikasi ke fasyankes uji petik ke RS, puskesmas, klinik dan isoman untuk verifikasi pengelolaan limbah," terangnya.

Untuk lebih menguatkan pemahaman dan pemberian informasi kepada publik soal limbah B3 yang dihasilkan Covid-19, pihaknya bekerja sama dengan pemerintah provinsi membuat pesan sosialisasi dalam bentuk flyer yang disampaikan melalui media sosial.

Disamping itu, dia meminta Satgas covid tingkat kewilayahan supaya mengawasi dan memastikan tempat-tempat pembuangan sampah yang ada di masyarakat agar tidak tercampur dengan limbah medis Covid-19.  

"Bahkan di RT saya itu dikasih spanduk, oh ini lagi isoman jadi kalau sudah isoman teridentifikasi kemudian limbah medis isoman itu dipisahkan, nah kalau sudah dipisahkan kemudian limbah isomannya ada yang mengambil kemudian dimasukkan ke fasyankes langsung digabung di puskesmas," katanya.

"Kalau Kota Cirebon sudah bagus, dia kalau di plastik kuning dia berikan kemudian yang isoman itu diambilnya setiap 2 hari sekali," tambahnya.


Agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, ujar Prima, limbah medis yang berada di fasyankes kemudian akan diangkut oleh tranpsporter berizin resmi untuk dikirim ke pihak ketiga, untuk dimusnahkan dengan menggunakan insenerator.

Terdapat tujuh perusahaan yang bertugas untuk mengolah dan memusnahkan limbah medis Covid-19 di Jawa Barat.
"Tujuh perusahaan tersebut, tiga ada di Karawang, dua ada di Bekasi, satu di Bogor, satu lagi di Sukabumi," terangnya.

"Jadi memang ada perusahaan-perusahaan yang memang bertugas untuk mengolah limbah B3. Kemudian setelah itu diproses lebih lanjut dipengolah tersebut bagaimana menghabiskan limbah medis ini dengan insinerator di suhu lebih dari 1000 derajat celcius, kemudian abunya juga harus dikelola dengan baik ditimbun sebagaimana peraturan yang berlaku oleh pihak ketiga tersebut," bebernya.

"Kapasitas insenerator kita masih besar 155,04 ton perhari, jadi memang masih memungkinkan masuk ke insenerator," tutupnya. (Aris)

Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler