Hari Pertama PTM Terbatas Kelas Kaku, Ini yang Dilakukan Guru Agar Enjoyfull Learning

Kamis, 9 September 2021 17:44 WIB

Share
Hari Pertama PTM Terbatas Kelas Kaku, Ini yang Dilakukan Guru Agar Enjoyfull Learning
Sekda Kota Bandung Ema Sumarna saat tinjau hari pertama PTM Terbatas di SD Ar Rafi Kota Bandung. Hari pertama masuk sekolah setelah satu tahun lebih tidak pakai seragam. Anak anak harus belajar di kelas seperti hari pertama tahun ajaran baru. Semua terlihat canggung dan kaku. (foto:Ist)

BANDUNG, POSKOTAJABAR.CO.ID

Hari pertama masuk sekolah setelah satu tahun lebih tidak pakai seragam. Anak anak harus belajar di kelas seperti hari pertama tahun ajaran baru. Semua terlihat canggung dan kaku.

Kondisi itu juga terpantau di Komplek Sekolah SMP-SMP PGII dan SD Ar Rafi' Kota Bandung. Semua masih malu-malu, tapi mau.

Egi  Arif Rahman, guru SMP PGII Kota Bandung mengatakan, secara de facto hari ini memang hari pertama masuk sekolah, tetapi secara de jure tidak.   Karena, jelasnya materi yang harus diajarkan kepada siswa bukan lagi materi awal sekolah, tetapi sudah masuk tahap lanjutan maka suasana canggung ini tentu tidak menyenangkan.


Untuk itu, agar kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa berjalan sebagaimana mestinya, dan anak bisa menangkap materi yang diajarkan, anak harus dibuat enjoy dulu.

"Itu makanya tadi saya lakukan ice breaking. Itu semua dilakukan agar kelas menjadi cair, dan KBM bisa berjalan sebagaimana mestinya," terangnya.

Egi mengakui, saat PTM Terbatas ini para guru harus lebih interaktif saat memberikan pelajaran. Ia pun menerapkan metode "enjoyfull learning" agar anak-anak yang berada di kelasnya bisa merasa nyaman.

"Kalau di google classroom yang daring, mereka masih oke saja. Nah yang tadi baru masuk sepertinya memang agak kaget. (Saat di kelas) kita pakai layar komputer agar yang di rumah juga bisa melihat ke saya, jadi yang di kelas dan di rumah ada eye contact," imbuhnya.

Salah seorang siswa SMP PGII, Azka Saniy juga mengakui hal tersebut. Namun saat mengikuti PTM ia merasa bisa lebih menangkap pelajaran dari guru.

Azka yang saat ini berada di kelas 9, sebelumnya mengikuti PTM terakhir saat kelas 7.

"Bedanya kalau online, bisa malas-malasan. Kan bisa saja tidak menyalakan kamera, kita tiduran. Sedangkan di kelas tidak bisa. Lebih bisa menangkap (pelajaran) juga kalau ketemu langsung," ucap Azka yang saat ini berada di Kelas 9.

Menurut Azka, orang tuanya menyetujui untuk mengikuti PTM. Ia pun membawa bekal untuk makan, hand sanitizer dan memakai masker sebagai alat pelindung diri saat pandemi Covid-19 ini.

Di lain tempat, yakni di SD Ar Rafi', Wakil Kepala Sekolah, IIs Siti Aisah mengungkapkan hal serupa. Respon para peserta didik terlihat lebih canggung saat bertemu teman-temannya seolah-olah seperti menjadi murid baru lagi.

"Karena hampir dua tahun tidak bertemu, seolah-olah seperti murid baru lagi. Sebenarnya harapan mereka itu bisa main bola misalnya bersama teman-teman," ucapnya.

"Tetapi karena pandemi seperti ini, mungkin hal yang seperti berinteraksi dengan temannya tidak bisa dilaksanakan secara maksimal. Hanya bertemu di kelas saja," lanjutnya.

Oleh karena itu, Iis mengaku pada hari pertama PTM terbatas ini, sekolah tidak memberikan materi pembelajaran. Namun lebih ke arah pemberian motivasi dan arahan menjaga pola hidup sehat.

"Jadi anak-anak tidak dibuat 'shock' ketika harus masuk ke sekolah lagi," ucap Iis. (Aris)

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar