Data Kemendikbud Rister 149 Sekolah Klaster PTM Terbatas, Begini Penjelasan Kadisdik Jabar

Sabtu, 25 September 2021 18:48 WIB

Share
Kadisdik Jabar Dedi Supandi memberikan pnjeaan soal adanya klaster PTM Terbatas. (Foto: Ist.)

BANDUNG, POSKOTAJABAR.CO.ID -
Disdik Jabar tanggapi data Kemedikbud Ristek yang menyebut PTM Terbatas telah menyebabkan terjadinya klaster Covid-19 149 dengan melakukan penelusuran lewat cabang dinas. Hasilnya, nihil. Yang terjadi, miscommunications.

Kadisdik Jabar, Dedi Supandi, mengatakan, pihaknya sudah mengecek di lapangan terkait data tersebut. Sebab, saat ini --sesuai data Dapodik-- sudah ada 1.295 dari 5.33 sekolah yang sudah melakukan PTM Terbatas.

"Kita sudah cek lewat pengawasan dan cabang dinas di berbagai daerah. Tidak ada satu pun klaster PTM. Akhirnya, kita coba mengecek ke jejaring dari sumber yang ada. Ternyata, sumber itu setelah dibuka dan diklik tidak muncul datanya," kata Dedi Supandi,  pada Gebyar Vaksinasi Disabilitas Kota Bandung, di SLBN Cicendo, Sabtu 25 September 2021.

"Dan kita konfirmasi ke Pusdatin dan kemendikbud, ternyata telah terjadi   miscomunication," lanjutnya.

Dedi menjelaskan, yang dimaksud dengan klaster, bukan kluster PTM. Melainkan, ada data peserta didik pernah Covid-19 yang mengikuti PTM.

"Jadi ini, miscommunication. Kita sampaikan kepada publik bahwa tidak ada klaster PTM Terbatas, dan mohon doa nya jangan sampai ada kluster PTM di Jabar," ucapnya.

Miskonsepsi
Kemendikbud Ristek juga sudah mengklarifikasi soal isu klaster Covid-19 di sekolah di tengah PTM Terbatas.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen), Jumeri, mengatakan, setidaknya ada empat miskonsepsi soal isu tersebut.  

Pertama,  2,8 persen satuan pendidikan yang sebelumnya dipublikasikan oleh pihaknya bukanlah data klaster Covid-19.

Kemudian, data satuan pendidikan yang melaporkan adanya warga sekolah yang pernah tertular virus tersebut. “Jadi belum tentu klaster,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Jumat, 24 September 2021.  

Miskonsepsi kedua menurut Jumeri adalah belum tentu penularan Covid-19 terjadi di satuan pendidikan. Data 2,8 persen itu, menurut dia, didapatkan dari laporan 46.500 satuan pendidikan yang mengisi survei dari Kemendikbudristek.

“Satuan pendidikan tersebut ada yang sudah melaksanakan PTM terbatas, ada juga yang belum,” tuturnya.  

Yang ketiga, Jumeri mengatakan angka 2,8 persen satuan pendidikan itu bukan akumulasi dari kurun waktu satu bulan terakhir. Angka itu didapat dari laporan yang diterima sejak bulan Juli tahun lalu atau dalam kurun waktu 14 bulan.

Terakhir, Jumeri menyebut isu soal 15 ribu siswa dan 7 ribu guru positif Covid-19 berasal danri laporan 46.500 satuan pendidikan yang belum terverifikasi sehingga masih ditemukan kesalahan.

"Misalnya, kesalahan input data yang dilakukan satuan pendidikan seperti laporan jumlah guru dan siswa positif Covid-19 lebih besar daripada jumlah total guru dan siswa pada satuan pendidikan tersebut," ucapnya.  (Aris)

Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler