Waduuh ! Angka Kematian Ibu dan Bayi Tinggi, Ini yang Dilakukan Pemkot Bandung

Rabu, 29 September 2021 07:53 WIB

Share
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna saat rapat koordinasi Tim Penyelamat Ibu dan Anak di sebuah hotel, Selasa 28 September 2021. (foto:Ist)

BANDUNG, POSKOTAJABAR.CO.ID

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna mengatakan, salah satu visi pembangunan Kota Bandung yaitu ingin menghadirkan kota yang unggul.

Untuk mewujudkannya harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas baik secara lahir maupun batin. Termasuk di dalamnya unggul dalam bidang kesehatan.

"Kesehatan ini adalah pondasi. Salah satu tolak ukur yaitu keselamatan ibu hamil dan bayi," kata Ema saat menghadiri Rapat Koordinasi Tim Penyelamat Ibu dan Anak di Harris Hotel Festival Citylink, Selasa 28 September 2021.

Ema mengakui, hingga saat ini angka kematian ibu dan bayi masih relatif tinggi. Maka diperlukan strategi khusus untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi.

Salah satunya dengan mengoptimalisasi peran Posyandu. Karena, posyandu merupakan garda terdepan yang paling dekat dengan masyarakat.

"AKB (angka kematian bayi) dan AKI (angka kematian ibu) termasuk di Kota Bandung angkanya relatif tinggi. Saya lihat AKB lebih besar datanya dari pada AKI," terangnya.

Di tempat sama, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr Anhar Hadian mengungkapkan, faktor sosial budaya menjadi salah satu permasalahan mendasar yang menyebabkan kematian ibu dan bayi.

"Adanya keterlambatan dan pelu adanya penanganan terpadu dari semua pihak," ungkapnya.

Maka melalui tagline Bandung Salamina 'Bandung Selamatkan Nyawa Ibu dan Bayi', Dinkes berkolaborasi dengan Jhpiego akan menghimpun berbagai pihak untuk membentuk tim penyelamat ibu dan bayi.

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler