Dua Petani Tebu Tewas Dalam Bentrok Berdarah, Ini Penjelasan PG Jatitujuh 

Rabu, 6 Oktober 2021 17:06 WIB

Share
Kantor PG Rajawali II (RNI Group) di Jl dr Wahidin Sudirohusodo, Kota Cirebon. Manajemen PT PG Rajawali II sebagai pengelola PG Jatitujuh menyesalkan terjadinya penyerangan terhadap mitra petani tebu oleh sekelompok orang pada, Senin, 4 Oktober 2021, di Desa Kerticala, Kecamatan Tukdana, Indramayu. (foto:Ist)

CIREBON, POSKOTAJABAR.CO.ID
Manajemen PT PG Rajawali II sebagai pengelola PG Jatitujuh menyesalkan terjadinya penyerangan terhadap mitra petani tebu oleh sekelompok orang pada, Senin, 4 Oktober 2021, di Desa Kerticala, Kecamatan Tukdana, Indramayu.

Hal itu disampaikan, Direktur PT PG Rajawali II , Ardian Wijanarko, dalam rilisnya, Rabu 6 Oktober 2021. Terlebih, petani tebu merupakan salah
satu mitra strategis yang berpengaruh terhadap kelangsungan produksi pabrik gula.

Ardian berharap peristiwa ini, tidak mengganggu jalannya pola dan hubungan kemitraan yang telah terjalin dengan baik --sejak beberapa tahun terakhir ini.

“Duka cita yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Tentunya kami sangat menyayangkan terjadinya penyerangan terhadap mitra petani tebu di wilayah HGU Jatitujuh," katanya.

Kedepan ujar Ardian, semoga peristiwa kelam itu tidak terulang kembali, mengingat para petani tebu rakyat di wilayah tersebut merupakan binaan dari PG Jatitujuh dan telah banyak berkontribusi memasok bahan baku tebu untuk menjaga keberlangsungan produksi gula.

Ardian juga percaya penegak hukum bisa memproses kasus ini, sesuai hukum yang berlaku.

“Kami mengecam dan tidak menoleransi aksi kekerasan yang terjadi di wilayah operasional perusahaan dan akan berupaya semaksimal mungkin menjamin keamanan para mitra petani tebu yang saat ini bekerja menggarap lahan di HGU Jatitujuh," tambahnya.

"Upaya ini dalam rangka menjaga aset negara serta memastikan aktivitas produksi gula untuk memenuhi kebutuhan gula nasional tidak terhambat,” tambahnya.

Ardian juga berharap kerja sama yang telah terjalin dengan mitra petani tebu yang dinaungi oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat dapat terus berjalan sehingga tetap berkontribusi bagi kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar.

“Kemitraan tebu harus terus berjalan, karena telah terbukti memberikan dampak positif baik bagi kesejahteraan petani maupun keberlangsungan oparasional pabrik,” ujarnya.

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler