PTM Harus Perhatikan Prinsip Dasar Hak Anak, Save The Children Lakukan Program Guru Kunjung 

Minggu, 5 September 2021 16:40 WIB

Share
Lulu, guru dampingan Save the Children dengan penuh semangat dan perjuangan mendatangi muridnya di Desa Balaesang Tanjung, Donggala, untuk memastikan mereka tetap mendapatkan hak pendidikannya selama pandemi Covid-19.(Foto savethechildren)

BANDUNG, POSKOTAJABAR.CO.ID
Save the Children mengapresiasi tahapan-tahapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang telah disusun Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kota Kabupaten demi cegah terjadinya learning loss, namun demikian dalam pelaksanaannya langkah tersebut tetap harus memperhatikan prinsip dasar hak anak.

Deputy Chief of Program Impact and Policy Save the Children Indonesia, Tata Sudrajat menjelaskan hal tersebut di atas lewat keterangan tertulisnya saat dihubungi POSKOTAJABAR via telepon selularnya.

Prinsip dasar hak anak itu, kata Tata, adalah kepentingan terbaik bagi anak. Memastikan, lingkungan yang aman untuk anak menjadi prioritas.

"Artinya harus memastikan cakupan vaksinasi orang dewasa memenuhi target, dengan demikian risiko penularan dan penyebaran Covid-19 dapat dikurangi," jelasnya.

Hal lainnya, tambah Tata, pemda provinsi dan pemda kota kabupaten juga perlu memastikan kesiapan sekolah dalam melaksanakan PTM.

"Mengingat data kemendikbud dari dashboard kesiapan proses belajar, mengajar satu pendidikan dimana pandemi Covid-19 per tanggal 25 Agustus 2021, baru 57,90 persen dari total 536.960 sekolah di Indonesia yang melaporkan, bahwa mereka siap melaksanakan PTM," terangnya.

Yang menjadi prioritas utama saat ini, jelas Tata adalah keamanan dan keselamatan anak, dimana semua tahu bahwa 12,9 persen atau sekitar 519 anak telah terkonfirmasi positif.

Selain itu, terang Tata kembali, angka kematian akibat Covid-19 juga mencapai 129,293 - 1 persen atau sekitar 1,290 orang adalah usia nol hingga 18 tahun. Sesuai data Covid19.go.id.

Data di atas, jelas Tata, sangat jelas risiko yang dihadapi anak masih sangat tinggi. Oleh karena itu, proses belajar mengajar perlu dilakukan secara jarak jauh dengan catatan bahwa penting untuk sekolah, orangtua, dan dinas pendidikan setempat untuk memastikan setiap anak tanpa terkecuali mendapatkan akses pendidikan baik secara daring, luring maupun kombinasi keduanya.

Tata menerangkan, untuk cegah learning loss terhadap anak didik save the children di beberapa provinsi di wilayah Timur Indonesia, melakukan kerjasama dengan Dinas Pendidikan setempat.

Kerjasama itu dalam bentuk, menyelenggarakan program guru kunjung. Pelaksanaan jam belajar, dibantu oleh aparat desa dan komunitas yang ada dimasyarakat, menggunakan media radio sebagai sarana penyampaiakn informasi dan belajar mengajar serta parenting.

"Selain itu, terkait dengan keterlibatan orangtua dalam membantu anak belajar di rumah. Save the Children bersama dengan Dinas Pendidikan setempat juga membantu menyediakan lembar kerja anak selama satu minggu, termasuk alat belajar anak-anak," pungkasnya.(Aris)

Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler