Entaskan Stunting Untuk Menjaga Kualitas Generasi Penerus Bangsa, Anggota Dewan dan BKKBN Gelar Sosialisasi

Minggu, 7 Agustus 2022 14:23 WIB

Share
Entaskan Stunting Untuk Menjaga Kualitas Generasi Penerus Bangsa, Anggota Dewan dan BKKBN Gelar Sosialisasi
Anggota DPR RI, H. Kardaya Warnika saat sosialisasi KIE dan Program Bangga Kencana. (foto: Tosim)

CIREBON, JABAR.POSKOTA.CO.ID - Upaya pengentasan stunting dinilai sangat penting demi menjaga kualitas generasi penerus bangsa yang sehat dan cerdas di masa yang akan datang.

Demikian disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI, Kardaya Warnika, dalam Sosialisasi, Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga Kependudukan Dan Keluarga Berencana) di Desa Panguragan Kulon, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, baru-baru ini.

"Sosialisasi ini kita lakukan langsung dengan turun ke masyarakat. Dan untuk hari ini kita menyambangi Desa Panguragan Kulon, maka seluruh warga harus berbangga hati karena mendapat informasi langsung dari para narasumber yang sangat berkompeten," ujarnya.

Hadir dalam kegiatan yang digelar bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) itu, Penyuluh KB utama BKKBN, Nofrijal, Koordinator Bidang LATBANG Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Angela Sri Melani Winyarti dan Plt. Sub Kor. Advokasi dan PP DPPKBP3A Kab. Cirebon, Jaojatun.

Dalam kesempatan itu, Penyuluh KB utama BKKBN, Nofrijal dalam pemararannya menjelaskan, bahwa stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Hal ini terjadi karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Disebutkan, anak masuk ke dalam kategori stunting ketika panjang atau tinggi badannya menunjukkan angka di bawah -2 standar deviasi (SD). Kondisi ini dialami anak yang masih di bawah usia 2 tahun dan harus ditangani dengan segera dan tepat.

Penilaian status gizi dengan standar deviasi tersebut, menurut dia, biasanya menggunakan grafik pertumbuhan anak (GPA) dari WHO. Hal tersebut yang kemudian membuat pertumbuhan tinggi badan anak terhambat sehingga mengakibatkan dirinya tergolong stunting.

"Namun, anak dengan tubuh pendek belum tentu serta merta mengalami stunting. Kondisi ini hanya terjadi ketika asupan nutrisi harian anak kurang sehingga mempengaruhi perkembangan tinggi badannya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kuwu) Desa Panguragan Kulon, H. Kusiono dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada DPR RI dari Dapil Jabar VIII, H. Kardaya Warnika dan BKKBN Pusat serta para narsumber lainya yag telah berkenan hadir di desanya memberikan pemahaman stunting kepada warga.

"Sosialisasi ini sangat penting bagi warga agar masyarakat bisa melakukan pencegahan stunting sekaligus mendapatkan berbagai ilmu dan informasi lainnya terkait dengan kesehatan dan kesejahteraan,” tuturnya.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar