Pemda Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana di Garut Bagian Selatan, Ini Penjelasan Wabup

Minggu, 25 September 2022 14:53 WIB

Share
Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengunjungi Posko Bencana di Kecamatan Pameungpeuk. (Kris)
Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengunjungi Posko Bencana di Kecamatan Pameungpeuk. (Kris)

GARUT, JABAR.POSKOTA.CO.ID - Wakil Bupati Garut Helmi Budiman menetapkan status tanggap darurat bencana selama 7 hari setelah terjadinya banjir bandang dan longsor di Garut Selatan pada 22 September 2022 lalu.

Wabup menjelaskan, saat ini pihaknya masih menghitung jumlah kerugian. Kemudian dilanjutkan dengan penanganan pasca banjir bandang di wilayah Garut bagian selatan.

"Saat ini ada lima kecamatan yang terdampak, memang yang paling parah di Pameungpeuk, terus Cisompet, kemudian Singajaya, Banjarwangi, dan juga Cibalong," katanya saat mengunjungi Posko Bencana di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Minggu (25/9/2022).

Ia menuturkan, ada sekitar 1.644 rumah terdampak banjir bandang dan dua rumah hancur di Kecamatan Pameungpeuk. Selain itu, satu rumah hancur karena longsor di Kecamatan Cisompet.

"Nah yang lainnya ada kerusakan, hanya terendam saja, ada (juga) yang rusak, nah ini jumlahnya sedang diinventarisir, namun diperkirakan yang rusak itu sekitar 200 sampai 400 rumah, yang 1200 rumah itu kemungkinan yang terendam saja," tuturnya.

Ia mengungkapkan, secara kasat mata kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir bandang dan longsor ini lebih dari Rp 10 miliar.

"Yang mengungsi itu hari ini ada 40 KK, tapi tadi sedang diupayakan rumahnya kita bersihkan, sehingga diharapkan tidak ada yang khusus mengungsi. Nah, ada satu dua itu ditampung di keluarganya," tuturnya.

Wabup memaparkan ada beberapa jembatan yang rusak salah satunya yaitu jembatan yang baru saja diresmikan.

"Kemudian jembatan merah putih, dan jembatan Manglayang. Ada 3 jembatan (yang rusak), satu di Pameungpeuk, dua di Cibalong," ujarnya.

Untuk penanggulangannya sendiri, imbuh dia, terdapat dua pilihan yaitu relokasi dan tanggul. Namun untuk sementara ini, Helmi menyampaikan bahwa penanganan melalui tanggul dinilai lebih rasional.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar