Catatan Sejarah: Serangan Umum 1 Maret 1949, Membuka Mata Dunia Bahwa Eksistensi Indonesia Masih Kuat

Pendidikan —Senin, 1 Mar 2021 09:10
    Bagikan:  
Catatan Sejarah: Serangan Umum 1 Maret 1949, Membuka Mata Dunia Bahwa Eksistensi Indonesia Masih Kuat
(Foto: Pinterest.com)

POSKOTA JABAR, BANDUNG

Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan pada 19 Desember 1948, adalah bukti dari pengkhianatan yang dilakukan Belanda terhadap perjanjian damai Renville. Dalam Agresi Militer Belanda II, Belanda berhasil menaklukan ibukota Yogyakarta dan menangkap pemimpin-pemimpin pemerintahan Republik Indonesia.

Tak tinggal diam Bangsa Indonesia pun merespons Agresi Militer Belanda II dengan melancarkan Serangan Umum pada 1 Maret 1949. Dilansir dari website resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Serangan Umum 1 Maret merupakan bentuk pembalasan bangsa Indonesia terhadap tindakan sewenang-wenang pemerintah Belanda di Yogyakarta.

Perang dilakukan secara gerilya pukul 18.00 waktu setempat. Sirene dinyalakan sebagai tanda dilakukannya serangan. Seketika para pasukan TNI menyerang semua tentara Belanda yang ditemui di setiap sudut kota.

BACA JUGA: Beasiswa S1 Glow & Lovely Bintang Beasiswa 2021 untuk Lulusan SMA/SMK/Sederajat

Dalam perang yang terbilang singkat selama enam jam, Belanda mampu dilumpuhkan dan mereka meninggalkan pos militer yang ada.

Harta rampasan berupa persenjataan menjadi tambahan logistik untuk TNI. Lalu, pasukan TNI diminta mengosongkan Yogyakarta menuju pangkalan gerilanya tepat pada pukul 12.00 siang keesokan harinya.

Serangan umum 1 Maret 1949 membawa arti penting bagi posisi Indonesia di mata internasional. Selain membuktikan eksistensi TNI yang masih kuat, Indonesia memiliki posisi tawar melalui perundingan di Dewan Keamanan PBB. Perlawanan singkat tersebut turut mempermalukan Belanda denga propagandanya.

BACA JUGA: Pendaftaran Beasiswa LPDP akan Dibuka Maret 2021

Kontroversi Serangan Umum 1 Maret 1949

Meski Serangan Umum 1 Maret 1949 berhasil memukul Belanda dari Kota Yogyakarta saat itu, tetapi ada kontroversi seputar peran Letkol Soeharto.
Salah satu fragmen yang disoroti adalah sewaktu peperangan sedang terjadi. Yang mana, dalam buku sejarah era Orde Baru, Letkol Soeharto tercatat sebagai inisiator dan pemimpin pertempuran. Namun hal ini berkebalikan dengan kesaksian Abdul Latief, anak buah Letkol Soeharto saat itu.

Dalam tulisannya “Laporan tentang Dewan Jenderal kepada Jenderal Soeharto” yang diunggah pada laman penerbit HastaMitra, mengatakan jika Soeharto sedang bersantai makan soto babat bersama pengawal dan ajudannya.

Latief bertemu Soeharto dengan pasukannya yang tidak lebih dari 10 orang. Saat itu, Kapten Abdul Latief dan pasukan yang tersisa dalam posisi kepayahan. Dua anak buahnya meninggal, 12 lainnya terluka.

BACA JUGA: Ramalan Zodiak Besok Selasa 2 Maret 2021, Leo Ingat Komitmen, Gemini Dapat Kejutan

Sementara itu terdapat 50 pemuda laskar gerilya yang juga gugur di medan perang dan dimakamkan di dekat Stasiun Tugu Yogyakarta.
Pasukan pimpinan Latief kembali ke markas gerilya yang ada di Kuncen, barat Kota Yogyakarta.

Tidak disangka di sana ia bertemu Komandan Wehrkreise Letkol Soeharto sedang makan soto. Selain itu, dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 juga tidak terlalu menonjolkan peran Sultan HB IX.

Dalam buku Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004 (2005) karya M.C Ricklefs, keberhasilan Indonesia melancarkan Serangan Umum 1 Maret 1949 mampu membuka pandangan dunia internasional bahwa eksistensi Indonesia masih kuat.

Selain itu, Indonesia juga diuntungkan dengan kecaman dunia internasional terhadap peristiwa Agresi Militer Belanda II. Pada perkembangannya, Belanda mendapat tekanan dari Amerika Serikat dan PBB untuk mulai memberi pengakuan kedaulatan dan penyerahan kekuasaan pada Indonesia dalam perjanjian damai Roem Royen dan Konferensi Meja Bundar. (ES)

BACA JUGA: Catatan Sejarah: Serangan Umum 1 Maret 1949, Membuka Mata Dunia Bahwa Eksistensi Indonesia Masih Kuat

Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait