Tidak Ada yang Tidak Mungkin Dalam Politik

Opini —Senin, 1 Mar 2021 12:04
    Bagikan:  
Tidak Ada yang Tidak Mungkin Dalam Politik
Agus Harimurti Yudhoyono ketika bertemu dengan Presiden Jokowi, beberapa waktu lalu. (Setkab)

Oleh TOMMY RUSIHAN ARIEF

TIDAK ada yang tidak mungkin dalam politik. Semuanya ditentukan oleh kepentingan. Sehingga, ada yang memandang beda dengan apa yang disebut pragmatisme politik. Tapi politik memang seni memainkan peran. Bahkan, peran protagonis atau antagonis. Sesuai dengan semangat jangka pendek, menengah atau jangka panjang. Seni memainkan peran adalah pola mengelola sikap, cara berpikir dan bertindak. Untuk mencapai tujuan mulia dalam perpolitikan nasional.

Sebagai partai politik besar, Partai Demokrat (PD) harus terus memainkan peran penting dalam peta politik Indonesia. Dalam perspektif seni peran, akan lebih baik dan terhormat jika Demokrat memainkan peran sentral di panggung utama. Bukan figuran di panggung kecil. Pak SBY paham betul hal itu. Beliau adalah seorang maestro politik. Sepuluh tahun sukses menjadi presiden. Pak SBY adalah seorang Jenderal pandai lulusan terbaik Akmil 1973.

Beliau sangat tahu apa yang harus dilakukan Demokrat kemarin, hari ini, dan esok. Lebih dari apa yang bisa dipahami oleh semua pengurus dan kader PD. Jadi, mari kita apresiasi dan dukung apa yang dilakukan Sang Panglima. Tidak perlulah harus nyinyir. Apalagi, mencoba membangun dialektika baru yang sebetulnya hanya samar-samar kita pahami. Memainkan seni peran dalam politik membutuhkan sutradara jenius. Itulah sosok SBY, sang maestro, sang panglima, dan sutradara jenius.

BACA JUGA:  Indonesia Borong 36 Jet Tempur Canggih Dessault Rafale

Kemudian, untuk Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Secara pribadi, saya lebih mengenal Ibas. Sejak 2004 saya dan Ibas (bersama kader Partai Demokrat yang lain) terlibat bersama dalam berbagai kegiatan, untuk membesarkan PD. Namun, sejak AHY mulai aktif mendinamisasi PD sampai menjadi Ketua Umum PD, saya sebagai kader senior mulai antusias mengikuti pemikirannya yang progresif dan futuristik.

Kesimpulan awal saya yang kemudian terus berkembang, bahwa AHY akan menjadi pemimpin terbaik dan ideal untuk parpol sebesar PD. Dengan kualitas berpikir dan tingkat kecerdasannya yang diatas rata-rata, AHY tidak memerlukan waktu lama untuk mengaktualisasi pola kepemimpinannya. Tentunya, dengan sejumlah program terobosan yang terkait langsung dengan kepentingan rakyat.

AHY adalah salah-satu putra terbaik Indonesia. Ketika mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Amerika Serikat (The United State Army Command and General Staff College) di Fort Leavenworth, Kansas, AS (2014-2015) AHY mendapat IPK 4.0. Dia juga mendapat IPK 4.0, saat mengikuti pendidikan pascasarjana di Webster University, Missouri, AS (2015). Bahkan, dia merupakan lulusan terbaik saat menempuh pendidikan sekolah lanjutan perwira di United States Army Infantri Sahool di Fort Bening, Georgia, AS.

BACA JUGA:  Jabar Mengalami Penurunan dalam Kasus Positif Covid-19, Berada di Posisi Kedua

Melanjutkan kecemerlangannya sebagai lulusan terbaik Akmil 2000, AHY juga adalah lulusan pascasarjana di John F. Kennedy Government School, Cambridge, Massachussets, AS (2009-2010) dan Rajaratnam School of International Studies, Singapura. Dengan sederet latar pendidikan yang sangat cemerlang seperti itu, lantas siapa yang bisa meragukan tingkat kecemerlangan berpikir sosok pemimpin muda sekelas AHY. Bagi saya dan semua kader sejati PD, AHY adalah anugerah bukan saja bagi PD, tapi juga untuk bangsa Indonesia.***

 

* Tommy Rusihan Arief, wartawan senior.

Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait