Mang Koko, Seniman dengan Segudang Karya yang Jadi Pembaharu Karawitan Sunda

Pendidikan —Senin, 1 Mar 2021 14:43
    Bagikan:  
Mang Koko, Seniman dengan Segudang Karya yang Jadi Pembaharu Karawitan Sunda
(Foto: Pinterest.com)

POSKOTA JABAR, BANDUNG

Koswara atau akrab disapa Mang Koko, adalah salah satu seniman sunda yang sosoknya melegenda. Siapapun yang menyukai kawih Sunda, dapat dipastikan mengenal atau setidaknya pernah mendengar nama Mang Koko.

Mang Koko adalah seorang guru, santri, sastrawan, penulis, jurnalis, organisator, pencipta lagu, pembaharu karawitan Sunda, dan patut menjadi suri tauladan bagi praktisi seni di zaman sekarang. Semasa hidupnya, Mang Koko telah banyak mencipta kawih untuk anak-anak sampai tingkat dewasa, sehingga beliau lebih dikenal sebagai maestro karawitan.

Pria yang Lahir di Kecamatan Indihiang, Tasikmalaya pada 10 April 1917 ini tercatata pernah mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) (1932) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Pasundan (1935).

BACA JUGA: Albert Rudolf Bosscha, Sang Peneropong Bintang yang Bijaksana dan Murah Hati

Sejak tahun 1937 berturut-turut beliau bekerja di Bale Pamulang Pasundan, Paguyuban Paqsundan, De Javasche Bank; Surat Kabar Harian Cahaya, Harian Suara Merdeka, Jawatan Penerangan Provinsi Jawa Barat, guru yang kemudian menjadi Direktur Konservatori Karawitan Bandung (1961-1973), Dosen Luar Biasa di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung (sekarang ISBI).

Bakat seni yang dimilikinya berasal dari ayahnya, Ibrahim alias Sumarta (keturunan Sultan Hasanuddin, Banten) yang tercatat sebagai juru mamaos Ciawian dan Cianjuran. Selain dari sang ayah ia juga belajar dari seniman-seniman ahli karawitan Sunda yang sudah ternama dan mendalami hasil karya bidang karawitan dari Raden Machjar Angga Koesoemadinata, seorang ahli musik Sunda.

Ayah delapan anak ini tercatat sudah mencipta seribu lebih lagu pop Sunda. Salah satunya adalah lagu ‘Badminton’ yang pernah dinyanyikan oleh Benyamin S. Mang Koko menuliskan syair kocak itu pada tahun 1943.

BACA JUGA: Mengungkap Sisi Lain Dono Warkop yang Paradoks, Mulai dari Dosen, Aktivis, dan Penulis

Tidak hanya menciptakan lagu, Mang Koko juga tercatat sebagai orang Sunda pertama, yang memasukkan dasar perkusi ke dalam lagu-lagunya. Ia melakukan itu sejak 1950, jauh sebelum Harry Roesli memainkan musik perkusi.

Misal pada lagu Mundinglaya, Mang Koko memasukkan suara kentongan. Tetapi di bagian lain lagi, ia melengkapi bunyi kecapi dengan menambah unsur elektrik. Sebagai pembaharu musik Sunda, pemerintah pun pernah memberikan Anugerah Satya Lencana pada tahun 1971.

Mang Koko pun tercatat telah mendirikan berbagai perkumpulan kesenian, diantaranya: Jenaka Sunda “Kaca Indihiang” (1946), “Taman Murangkalih” (1948), “Taman Cangkurileung” (1950), “Taman Setiaputra” (1950), “Kliningan Ganda Mekar” (1950), “Gamelan Mundinglaya” (1951), dan “Taman Bincarung” (1958).

BACA JUGA: Semua Seri Qualcom Snapdragon Kini Hadir Di Tokopedia

Dan bersama kawan-kawannya, Mang Koko mendirikan Yayasan Cangkurileung pada 6 Maret 1959 yang berpusat di Bandung. Dan cabang-cabangnya menyebar di lingkungan sekolah-sekolah hampir di seluruh Jawa Barat. Proses berkesenian yang dilakukan Mang Koko, berjalan secara sistematis dan kostinten, seperti mengisi acara kawih di RRI Bandung setiap hari Minggu, mengadakan kursus karawitan untuk para guru, menerbitkan Majalah Swara Cangkurileung (1974).

Karya-karyanya bukan hanya dalam bidang kawih, tapi juga dalam bidang seni drama dan gending karesmen. Beberapa karyanya di bidang ini diantaraya; Gondang Pangwangunan, Bapa Satar, Aduh Asih, Samudra, Gondang, Samagaha, Berekat Katitih Mahal, Sekar Catur, Sempal Guyon, Saha?, Ngatrok, Kareta Api, Istri Tampikan, Si Kabayan, Si Kabayan jeung Raja Jimbul, Aki-Nini Balangantrang, Pangeran Jayakarta, dan Nyai Dasimah.

Semasa hidupnya Mang Koko merupakan seorang yang tidak pernah merasa puas akan apa yang telah ia capai di dunia karawitan. Mang Koko selalu menciptakan karya-karya, dengan tujuan agar karawitan selalu dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, sehingga karawitan tetap hidup dan tidak ditinggalkan oleh masyarakat. (ES)

BACA JUGA: Mang Koko, Seniman dengan Segudang Karya yang Jadi Pembaharu Karawitan Sunda

Editor: Edi
    Bagikan: