Diet Ekstrem yang Tak Sertakan Serat di Menu Harian Sangat Berbahaya bagi Kesehatan Tubuh, Ini Penjelasanya

Kesehatan —Jumat, 5 Mar 2021 18:26
    Bagikan:  
Diet Ekstrem yang Tak Sertakan Serat di Menu Harian Sangat Berbahaya bagi Kesehatan Tubuh, Ini Penjelasanya
ILUSTRASI/DOKTERSEHAT

POSKOTAJABAR,BANDUNG

Akhir-akhir ini masalah diet sering diperbincangakn orang –orang setelah artis terkenal Rina Gunawan meninggal dunia, yang sbeleumnya telah memngumumkan bahwa dirinya berhasil diet hingga 23 Kg.

Ahli gizi lulusan Universitas Indonesia sekaligus ketua Indonesia Sport Nutrisionis Association (ISNA) Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengatakan diet ekstrem yang minim serat dalam menu harian sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh.

“Ini salah kalau dikatakan sayur menghambat penurunan berat badan. Secara kimia tubuh, justru sayur yang membantu jika terjadinya kerusakan metabolik ketika kita melakukan defisit energi,” katanya.

BACA JUGA : Ramalan Zodiak Besok Sabtu 6 Maret 2021, Sagitarius Mencari Cinta, Leo Mengalah Lebih Baik

Lebih lanjut, Rita menjelaskan bahwa tubuh akan memakai energi secara 24 jam tanpa bergerak, terlebih untuk menggerakkan organ-organ tubuh yang tidak diperintah; seperti jantung berdetak, kerja ginjal, hati, usus, dan lambung. Organ-organ ini membutuhkan energi untuk bekerja.

“Ketika kita mendefisitkan energi, kemudian mikronutrien (seperti vitamin dan mineral) dan seratnya tidak dicukupi, itu akan membuat sistem kerja metabolik energi itu berlangsung tidak sempurna, dan itu tubuh membutuhkan serat dari sayuran,” jelasnya.

Selain itu, sayur memiliki serat yang fungsi utamanya adalah untuk menjaga keseimbangan mikrobiota dalam tubuh. Dr. Rita memaparkan, mikrobiota di tubuh memakan serat. Mikrobiota ini memiliki peran penting terhadap imunitas tubuh.

BACA JUGA : Nino Tahu Reyna Anak Kandungnya, Andin Telah Ditemukan, Ikatan Cinta Malam Ini

Jika tidak ada serat yang masuk, maka mikrobiota akan mati, dan menyebabkan antibodi tidak terbentuk, sehingga imunitas melemah. Selanjutnya, sayur dan serat juga berfungsi untuk mengontrol kolesterol dan menstabilkan kadar glukosa darah. Jika hanya memakan nasi dengan lauk tanpa serat, maka kadar glukosa akan naik dan merangsang insulin.

“Insulin, kalau diproduksi dalam jumlah yang tinggi, bisa terjadi proses inflamasi atau peradangan dalam waktu yang singkat. Dalam waktu panjang, itu beresiko hiperglikemi dan diabetes meritus,”

Serat sayuran juga menggerakkan peristaltik usus besar yang berfungsi memuluskan pekerjaannya mengeluarkan zat toksik di dalam tubuh. Jika tidak didukung serat, maka bisa timbul resiko kanker kolon.

BACA JUGA: Menu Makan Malam Sehat, Resep Mie zucchini Bakso Ayam Makanan Enak Penggugah Selera

Terakhir, sayur menghasilkan sisa basa sesuai dengan pH tubuh yang juga merupakan basa.“Tubuh kita pH-nya basa. Jadi kalau kita mengonsumsi makanan lalu hasilnya asam, maka ginjal, hati dan paru-paru langsung bekerja untuk membasakan,” kata Dr. Rita.

“Orang yang misalnya hanya makan protein saja bisa gagal ginjal karena ginjalnya bekerja keras untuk membasakan. Kalau kita makan sayur, maka  akan membasakan dan kerja tubuh kita jadi tidak berat,” imbuhnya.

Beberapa hari belakangan buku tips diet selebritas Tya Ariestya menghebohkan warganet, yang mengaku berhasil menurunkan berat badannya secara drastis melalui diet ketat selama beberapa bulan.

Tya berhasil memangkas berat badannya hingga 25 kilogram dalam kurun waktu empat bulan. Ia juga mengatakan dirinya tidak memakan sayur selama diet karena dianggap menghambat penurunan berat badan.

BACA JUGA: Menu Makan Malam Sehat, Resep Mie zucchini Bakso Ayam Makanan Enak Penggugah Selera

Selain tidak memakan sayur, diet ala Tya Ariestya juga disorot karena asupan kalori hariannya kurang dari 500 kalori (Very Low Calorie Diet/VLCD). Menurut Dr. Rita, hal ini membahayakan kesehatan dan memiliki dampak jangka pendek hingga panjang.

Dampak jangka pendeknya dengan defisit energi, menyebabkan proporsi tubuhnya  tidak bagus. Komposisi tubuhnya selain lemak  hilang, juga penurunan massa otot, tulang, dan total air dalam tubuh.

angka menengah, akan minim memberikan energi ke kerja basa dan imunitas, dan bisa jatuh ke malnutrisi. “Imunitas terganggu, dan kalau terekspos virus dan bakteri akan lebih mudah terpapar,” jelasnya.Efek jangka panjangnya, akan terjadi resiko gagal ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan lambung, hingga irama denyut jantung.

“Penyakit-penyakit ini adalah penyakit yang irreversible, tidak bisa diperbaiki. Perbaikan pola hidup, pemberian obat, mereka tidak mengembalikan (organ) ke fungsinya hingga 100 persen seperti semula. Jadi, jangan coba-coba lakukan diet ekstrem ini,” kata Rita./suarabaru.id/res

Editor: Resti
    Bagikan:  


Berita Terkait