Bermimpi Sepak Bola Kita Bersatu

Sepak Bola —Selasa, 9 Mar 2021 12:23
    Bagikan:  
Bermimpi Sepak Bola Kita Bersatu
Mahfudin Nigara wartawan sepak bola senior. (ist)

Catatan Jelang Piala Menpora

Oleh M. NIGARA 

RIBUAN keluarga pemain dan perangkat pertandingan, akhirnya akan segera kembali sedikit tersenyum. Jutaan suporter, meski harus menyaksikan dan telah sama-sama bertekad, nonton di rumah saja, juga akan segera kembali bergairah. Dan ratusan pengusaha merchendise rumahan, juga sama gembiranya karena ekonomi mereka kembali hidup.

Itulah situasi yang saat ini ada dalam orbit sepak bola nasional, menjelang diputarnya turnamen Pra-Musim, Piala Menpora. Suka atau tidak, penggemar sepak bola di Indonesia, konon jumlahnya lebih dari 20 negara Eropa. Itu sebabnya juga, FIFA dan UEFA sangat berkepentingan, ini pandangan pribadi saya, pada Indonesia. Dengan jumlah lebih dari 100 juta, sekali lagi ini pendapat pribadi saya, rating program FIFA dan UEFA tetap terjaga. Tanpa penonton dari Indonesia, maka jumlah penonton akan berkurang. Artinya, sangat mungkin income mereka juga akan berkurang. Wallahu a'lam.

Benar, masih ada pandemi, tapi insya Allah Piala Menpora tidak akan jadi klaster baru. Begini, syarat yang ditegaskan pihak Polri dan Satgas Covid-19, sangat ketat. Pertandingan hanya boleh melibatkan 200-an orang saja, itu pun setiap orang harus membawa surat negative test-antigen yang umur suratnya tidak sampai 24 jam. Artinya keadaan masing-masing orang benar-benar terjaga.

Bayangkan, stadion-stadion yang berkapasitas 10-20 ribu, bahkan ada yang mencapai 40 ribu, akan terlihat sangat lengang. Catatan: saya termasuk dari sedikit sisa wartawan yang pernah meliput laga sepak bola Indonesia dengan penonton sangat lengang, 1987an, meski tidak ada larangan apa pun saat itu. Artinya, laga tanpa penonton bukan hal aneh. Saya juga pernah delapan tahun menjadi anggota Komisi Disiplin PSSI serta Komisi Banding PSSI di era Nurdin Khalid hingga La Nyalla, sering menghukum klub bertanding tanpa penonton. Semua bisa terlaksana. Jadi, insyaa Allah aman.

BACA JUGA:  Persib Bandung Berada di Grup D di Turnamen Piala Menpora 2021, Bermain di Stadion Maguwoharjo Sleman

Tidak hanya itu, Polri dan Satgas Covid pun melarang adanya nonton bareng di cafe, di rumah, atau di mana pun. Yang dimaksud nonton bareng adalah menyaksikan pertandingan dengan jumlah lebih dari 10 atau 20 orang. Malah perpindahan suporter, konvoi, pawai, atau arak-arakan menggunakan atribut klub dari satu tempat ke tempat lain. Jika semua itu, insya Allah para suporter-mania sudah bertekad pula untuk tidak melakukannya, terlaksana, maka kekhawatiran tentang klaster baru, tidak terjadi.

Bayangkan, kegiatan di airport, lalu perjalanan dengan pesawat. Stasiun kereta api, perjalanan menggunakan KA untuk jarak dekat, sedang, dan jauh. Pasar-pasar tradisional dan pasar modern (mal), kantor-kantor. Ribuan orang berada di satu tempat, di waktu yang bersamaan, tetap saja bisa berjalan dan harus berjalan lantaran kehidupan juga harus terus berjalan.

Untuk itu, saya ingin sekali kita semua bersatu, sekali ini saja. Kita melihat sepak bola tidak hanya sekedar pertandingan sepak bola saja. Saya ingin kita melihat Piala Menpora ini sebagai alat penggerak kebersamaan. Kita lihat sepak bola sebagai wadah berkehidupan.

Tentu tidak semua orang punya sisi pandang yang sama, silahkan saja. Tapi, bahwa ada pihak yang membutuhkan sepak bola untuk melanjutkan kehidupan, itu adalah fakta tak terbantahkan. Sekali lagi, ada pihak yang tidak setuju, boleh-boleh saja. Tapi, tolong pahami, bahwa di dalam pandemi ini kita harus terus mampu bertahan. Salah satu cara bertahan adalah mampu melawan virus Covid-19. Untuk melawan virus, kita harus menjaga imun.  Imun akan terjaga jika hati dan pikiran kita terjaga pula. Nah, dengan sepak bola, insya Allah semuanya terjaga.

BACA JUGA:  Tampil Lebih Baik, Timnas Indonesia SEAG Kalahkan Bali United 3-1

Semoga dengan bergulirnya turnamen Pra-Musim Piala Menpora, PSSI, seluruh pemilik klub, pelatih, ofisial, pemain, perangkat pertandingan, suporter, dan kita para jurnalis, bisa saling berjaga. Saling mengingatkan dan bukan saling menikam. Di saat seperti ini, saatnya kita terpanggil untuk membangkitkan mimpi sepak bola Indonesia bersatu.

Ketika banyak sektor diragukan kebersatuannya, maka sepak bolalah yang bisa mempersatukan kita...

Bravo sepak bola kita!***

* Penulis adalah Wartawan Sepakbola Senior


Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait