Memahami Hisab dan Rukyat Awal Bulan Ramadhan (Bagian-1)

Opini —Kamis, 11 Mar 2021 17:11
    Bagikan:  
Memahami Hisab dan Rukyat Awal Bulan Ramadhan (Bagian-1)
Tubagus Hadi Sutiksno atau yang lebih dikenal dengan Ki Falak sedang beraktivitas rukyat hilal. (Dok. Ki Falak)

Sering Terjadi Ketidakseragaman di Beberapa Ormas Arus Utama dalam Menetapkan Masuknya Awal Bulan Hijriah


Oleh: TUBAGUS HADI SUTIKSNA 

TOPIK-topik yang berkenaan dengan hisab dan rukyat selalu menarik untuk diperbincangkan. Terutama ketika memasuki awal Ramadan dan Idul Fitri maupun Idul Adha. Hal tersebut terjadi karena acap kali terjadi ketidakseragaman di beberapa ormas arus utama dalam menetapkan masuknya awal bulan hijriah (Baca: Ramadhan).

Ketidakseragaman penetapan itu sendiri, sebenarnya bukan disebabkan oleh perbedaan metoda hitungan (hisab)-nya. Akan tetapi, lebih kepada’kriteria’ yang menjadi ketetapan ormas itu, berkenaan dengan berapa derajat tinggi hilal yang memenuhi syarat bahwa bulan baru telah masuk. Makalah singkat ini, menyajikan beberapa hal berkenaan dengan faktor-faktor yang saling melengkapi di dalam memprakirakan awal bulan hijriah.


Ijtima

Salah satu fenomena menarik yang terjadi di tata surya ini ialah peristiwa sinodic moon (bulan sinodik). Bulan sinodik ialah satu lunasi bulan mengitari bumi dari kedudukan matahari, bulan, dan bumi pada segaris bidang, berakhir pada kedudukan yang sama kembali dengan durasi waktu 29 hari 12 jam 44 manit 3 detik, atau 29,530589 hari.

BACA JUGA:  Menara dan Plafon Masjid Syekh Abdul Manan Indramayu yang Roboh Diperbaiki

Pada gambar di bawah, peristiwa bulan sinodik yang seterusnya di dalam fiqh dinamakan ijtima ditunjukkan oleh posisi B1 dan B3. Keadaan B1 dan B3 menunjukkan bulan lama telah berakhirnya perjalanan bulan lama dan sekaligus perjalanan bulan baru dimulai. Jadi, bisa dikatakan satu bulan ialah dari satu sinodis ke sinodis berikutmya. Begitu seterusnya di mana terjadi 12 kali peristiwa sinodik bulan dalam setahun.

Peristiwa ini, persis sebagaimana dinyatakan Al Quran surat At Tabah ayat 36, (“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan (sebagaimana) ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi….”). Selanjutnya, siklus sinodis bulan inilah yang dijadikan dasar Penetapan Kalender Islam atau Kalender Hijriah.

Di dalam penanggalan Islam, awal bulan baru ditandai dengan kemunculan hilal di atas ufuk di saat matahari terbenam (ghurub). Fenomena ijtima itu sendiri sebenarnya sukar untuk diamati karena kita menghadap ke bagian bulan yang sebelah bawah. Nilai Fraksi Iluminasi bulan, yaitu sinar matahari pada bulan yang terlihat dari bumi pada skala terkecil. Sehingga, amat sukar untuk di amati.

BACA JUGA:  Kantor UPP Kelas III Pangandaran Gelar Uji Coba Sandar Kapal di Dermaga Pelabuhan

Hal itu dikarenakan pada saat ijtima, belahan bulan bagian atas menghadap ke matahari dan kita menghadap ke bagian bawah bulan. Saat terjadi ijtima, tidak sama antara bulan satu dengan bulan berikutnya. Waktu terjadi ijtima, bisa siang hari atau pun malam hari. Namun, meski pun begitu, regulasi alam ciptaan Allah yang sedemikian rupa, saat peristiwanya terjadi bisa dihitung dengan sangat tepat.


Posisi tata surya pada saat penentuan hilal. (Ist)


Bagi praktisi hisab dan rukyat, mengetahui saat terjadi ijtima sangatlah penting dan berguna sebagai informasi pendahuluan di dalam menghitung posisi bulan, terutama di dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan bulan-bulan hijriah lainnya. Dengan mengetahui waktu terjadi ijtima, keberadaan hilal sebenarnya tinggal diolah dan dinyatakan dalam angka.(Bersambung)***


* Penulis, Dosen Ilmu Falak UNISBA, Anggota Dewan Syariah Pusat Persatuan Umat Islam (PUI), Anggota Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia Kota Cimahi.

Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait