Memahami Hisab dan Rukyat Awal Bulan Ramadhan (Bagian-2)

Opini —Jumat, 12 Mar 2021 14:59
    Bagikan:  
Memahami Hisab dan Rukyat Awal Bulan Ramadhan (Bagian-2)
Tubagus Hadi Sutiksna atau yang lebih dikenal dengan Ki Falak sedang melakukan rukyat hilal. (Dok. Ki Falak)

Hisab Awal Bulan

Oleh: TUBAGUS HADI SUTIKSNA 

HISAB awal bulan ialah metoda matematis-astronomis, untuk mengetahui posisi bulan baru pada kalender hijriyah, terutama di dalam penentuan awal bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Secara bahasa, kata “hisab” berasal dari haasaba – yuhaasibu – muhaasabatan – hisaaban. Kata hisab berarti perhitungan. Ilmu hisab memang bermakna ilmu untuk menghitung posisi benda langit (matahari, bulan, planet-planet dan lain-lain).

Yang memiliki akar kata yang sama dengan kata “hisab” adalah kata “husban” yang berarti perhitungan. Kata “husban” disebutkan dalam Al Qur’an untuk menyatakan bahwa pergerakan matahari dan bulan itu dapat dihitung dengan ketelitian sangat tinggi. Ilmu ini memiliki kaitan erat dengan astronomi. Namun, secara umum ilmu hisab hanya mengambil bagian kecil dari ilmu astronomi.


Metoda Hisab.

Berkenaan dengan penetapan awal bulan hijriah ada dua metoda hisab yaitu:

1. Hisab aritmetik

2. Hisab observasi.

BACA JUGA:  Status Penanganan Kasus Penembakan Laskar FPI Dinaikkan, IPW Apresiasi Kapolri dan Kabareskrim

Hisab Aritmetik

Hisab aritmetik yaitu menyUsun kalender hijriah berdasarkan peredaran harian rata-rata bulan di dalam mengitari bumi dalam sebulan. Dalam kalender Hijriah (kalender Islam) yang menggunakan peredaran bulan, rata-rata lunasi 1 bulan sinodik adalah 29,530589 hari. Angka ini lebih dari 29 hari, tetapi kurang dari 30 hari. Jumah 29 hari dan 30 hari dalam sebulan ini sesuai dengan pernyataan baginda Nabi SAW bahwa satu bulan itu ada yang 29 hari dan ada yang 30 hari.

Dari sini kita tahu, bahwa durasi satu bulan kalender Hijriah hanya ada 29 hari atau 30 hari, tidak ada yang 28 hari atau 31 hari. Di dalam kalender hijriah, ada enam bulan berdurasi 29 hari dan enam bulan berdurasi 30 hari. Sehingga, secara keseluruhan satu tahun kalender ISlam berisi 354 hari. Sebagaimana kita tahu, satu tahun kalender Syamsiah (Masehi) bedurasi 365 hari.

Jadi, dalam setahun kalender Hijriah lebih cepat 11 hari dibandingkan dengan kalender Syamsiah. Hisab aritmetik digunakan untuk menyusun kalender administrasi, kalender-kalender, dan lain-lain. Sementara itu, selama ini untuk penentuan awal bulan Ramadhan menggunakan metoda hisab hakiki atau hisab observasi.

BACA JUGA:  Wakil WaliKota Bandung Yana Mulyana Mengajak Masyarakat Berkreasi dan Inovatif, Buka Peluang Usaha di Tengah Pandemi Covid-19

Hisab Observasi

Hisab observasi atau hisab hakiki yaitu usaha secara matematis/astronomis untuk mengetahui posisi hilal (sabit bulan) di atas ufuk, saat matahari terbenam. Ada beberapa metoda atau langkah matematis yang bisa dilakukan untuk mendapatkan posisi bulan. Diantaranya, Metoda Brown, Ephemeris Hisab Rukyat, dan Nautical Almanac, dan masih banyak juga metoda yang lainnya. Di sini, penulis menganggap metoda Brown lebih teliti dibandingkah dua netoda yang lainnya.


Foto hilal. (Dok. Ki Falak)


Tingkat Akurasi Metoda Hisab.

Selain sangat praktis dan dapat dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, menentukan awal bulan baru hijriah dengan metoda hisab relativ akurat. Alasan ini juga barangkali yang menyebabkan ada Ormas yang sudah mengumumkan awal puasa atau Idul Fitri jauh hari sebelum ditetapkan pemerintah, dalam hal ini Kemenag RI.

BACA JUGA:  Gunung Sinabung Kembali Erupsi, Mengeluarkan Awan Panas Guguran

Meski pun begitu, umumnya para praktisi hisab turut juga melakujan rukyat hilal. Akan tetapi, lebih bersifat mengkonfirmasi hasil hisab. Bagi para praktisi hisab, rukyat al hilal dapat digunakan sebagai ajang evaluasi terhadap penggunaan jenis-jenis teleskop rukyat atau kamera digital, untuk meningkatkan citra hilal. Menurut pengalaman rukyat penulis, untuk keadaan iklim di Indonesia, tanpa bantuan kamera digital, rukyat jarang berhasil. (Bersambung)***


* Penulis, Dosen Ilmu Falak UNISBA, Anggota Dewan Syariah Pusat Persatuan Umat Islam (PUI), Anggota Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia Kota Cimahi.

Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait