Peran Apoteker pada Self Medication dan Terapi Masalah Gangguan Mental, Cara Mengobati Stress

Kesehatan —Jumat, 12 Mar 2021 15:47
    Bagikan:  
Peran Apoteker pada Self Medication dan Terapi  Masalah Gangguan Mental, Cara Mengobati Stress
ILUSTRASI/IST

POSKOTAJABAR,BANDUNG

Pada hari Sabtu tanggal 27 Februari 2021 Kelompok Keilmuan Farmakologi Farmasi Klinik Sekolah Farmasi ITB telah melakukan webinar secara daring dengan topik : Self Diagnosing dan Self Medication Serta Peran Apoteker Terkait Preventif dan Terapi Pada Masalah Gangguan Mental . Webinaar ini merupakan kegiatan dari Penelitian Pengabdian Masyarakat dan Inovasi (PPMI) ITB tahun 2021)

Pembicara dari kegiatan ini adalah dr.Elvine Gunawan, Sp.Kj yang merupakan salah satu psikiater di RS Melinda dan  Dr.Apt.Lia Amalia dosen Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. dengan moderator Dr.Pratiwi Wikaningtyas yang juga dosen Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung.

Latar belakang dari diselenggarakannya acara ini adalah melihat masalah yang dihadapi oleh masyarakat saat ini, dengan stressor yang dihadapi oleh masyarakat baik itu stressor fisik ataupun  stressor psikologi. jika tidak dilakukan dengan baik, maka mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan mental.

Baca juga: RAMALAN ZODIAK KARIER BESOK Sabtu 13 Maret 2021, Virgo Peluang Lain, Taurus Pekerjaan Menumpuk

Berdasarkan jurnal internasional, angka kejadian stress kemudian gangguan kecemasan, depresi selama pandemic covid ini lebih tinggi jika dibandingkan sebelum terjadinya pandemic. Disisi lain, di era digitalisasi ini banyak yang melakukan self diagnosting terhadap kondisi yang dialami.

Dalam paparannya, dr. Elvine menjelaskan bahwa Self diagnosing itu suatu proses yang panjang sekali, bahkan dokter psikiater pun sangat berhati-hati dalam memberikan diagnosis. Proses gangguan jiwa itu bukan proses yang terjadi sehari semalam. Proses ini proses kumpulan dari bertahun-tahun kehidupan kita yang akhirnya mencapai titik temu, suatu saat mental ketahannya itu hancur.

Jadi mengapa, self diagnose itu sangat tidak baik, tapi sebagai bentuk self awareness itu boleh sekali. Artinya kita sayang dengan diri kita, kita peduli dengan diri kita. Tapi kalau sampai dengan self diagnose, tolong untuk mencari professional kesehatan yang siapapun dia bisa memverifikasi yang tepat. Ia juga menjelaskan bahwa dengan banyaknya obat-obatan yang beredar di pasaran, sasarannya malah tidak tepat.

Baca juga: Nino Datang ke Kantor Aldebaran, Andin Tahu Reyna Anak Kandungnya, IKATAN CINTA MALAM INI

Sejak bulan Juni, WHO, Organisasi-organisasi kesehatan bahkan kampus-kampus terkenal di dunia itu sudah melakukan survey. Mereka bilang bahwa angka depresi itu meningkat sekali. Dari yang hanya 11-12% sekarang bisa sampai 30% dan bahkan ini menjadi peningkatan penggunaan obat-obat adiktif seperti alkohol, obat tidur, obat penenang dan ganja menjadi banyak sekali digunakan semasa pandemic  ini.

Pemateri kedua Dr. Apt Lia Amalia mengangkat tema peran apoteker dalam beberapa lingkup

Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa peran dokter jiwa atau psikiatris dimasa sekarang ini perlu kita dukung. Memang kolaborasi dengan tenaga kesehatan itu menjadi sangat penting. munculnya self diagnosing atau usaha upaya masyarakat untuk melakukan self medittion itu harus dihadapi oleh semua tennaga kesehatan.

Baca juga: VIRAL! Aliran Sesat Hakekok di Pandeglang, Ritual Mandi Bersama 16 Orang Tanpa Busana

Jangan sampai seseorang, masyarakat atau seorang pasien bisa mendapatkan obat dengan mudah. Aksesnya inginnya ke bebas terbatas, inginnya bebas juga ada batasannya. Kemudian bagaimana cara akses obat keras, narkotik dan psikotropk itu bisa dijaga supaya tidak ada oknum yang menginginkan obat itu secara legal atau yang biasa disebut penyalah gunaan obat.


 

 


Editor: Resti
    Bagikan:  


Berita Terkait