Memahami Hisab dan Rukyat Awal Bulan Ramadhan (Bagian-4/Habis)

Opini —Minggu, 14 Mar 2021 17:02
    Bagikan:  
Memahami Hisab dan Rukyat Awal Bulan Ramadhan (Bagian-4/Habis)
Dengan menggunakan teleskop, Tubagus Hadi Sutiksna atau yang lebih dikenal dengan Ki Falak sedang melakukan rukyat hilal. (Dok. Ki Falak)

Para Pemegang "Mazhab Rukyat" pun Menyiapkan Perhitungan Terlebih Dahulu Sebelum Tiba Saatnya Rukyat Hilal


Oleh: TUBAGUS HADI SUTIKSNA 


Tingkat Keberhasilan/Akurasi Metoda Rukyat.

DENGAN metoda hisab kontemporer yang terbilang simple, para pemegang "Mazhab Rukyat" pun menyiapkan perhitungan terlebih dahulu, sebelum tiba saatnya rukyat hilal. Oleh karena itu, saat kita (para praktisi hisab/rukyat) bertemu di lapangan, sesungguhnya sama-sama membawa data yang boleh dibilang sama, tentang berapa tinggi hilal pada saat ghurub nanti.

Sebagai praktisi hisab/rukyat yang terus mengikuti dan melakukan rukyat hilal, harus saya katakan bahwa tingkat keberhasilan rukyat hilal di Jawa Barat itu bisa dibilang sangat kecil. Terutama, jika mengamatinya dengan mata telanjang. Apalagi, ketika berhadapan dengan cuaca yang cepat berubah. Oleh karena itu, di masa sekarang, teleskope yang dilengkapi dengan kamera digital menjadi sebuah pilihan supaya peluang keberhasilan rukyat hilal itu menjadi lebih besar.


Hisab Dan Ru’yat Saudara Kembar yang Identik

Sebagai praktisi hisab sekaligus rukyatul hilal, penulis melihat bahwa metoda hisab sangat akurat karena hasil metoda hisab pun toh digunakan oleh pemegang mazhab rukyatul hilal sebagai referensi awal dalam memprakirakan ketinggian hilal. Di sisi lain, hisab observasi (hisab hakiki) yang diyakini tingkat akurasinya sangat tinggi, pada aplikasinya menggunakan algoritma tertentu yang melibatkan – tabel - perilaku benda langit yang diperoleh melalui pengamatan atau rukyat.

BACA JUGA:  Rutan Mabes Polri Mirip Pesantren, Habib Rizieq Shihab Lakukan Berbagai Kegiatan Keagamaan

Jadi, bagi praktisi, hisab dan rukyat sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Boleh dikatakan, tidak ada dikotomi pada keduanya. Adapun timbulnya perbedaan pendapat di dalam menentukan awal bulan hiriyah disebabkan adanya perbedaan kriteria ketinggian hilal yang dijadikan acuan di dalam menentukan jatuhnya awal bulan hijriyah.


Tinggi Hilal Awal Bulan Baru Kriteria Mabims

MABIMS (Forum Menteri-menteri Agama Brunei Darrusalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) ialah sebuah forum yang membuat kesepakatan bersama tentang batas tinggi hilal minimum yang menjadi syarat bahwa awal bulan Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan bulan-bulan hijriah lainnya telah masuk. Muzakarah Rukyat dan Takwim Islam Negara-negara MABIMS, pada 2 – 4 Agustus 2016 telah bersepakat untuk mengubah kriteria lama dengan kriteria baru.

BACA JUGA:  Pemerintah Indonesia Belum Menggunakan Vaksin AstraZeneca untuk Target Vaksinasi Nasional

Kriteria lama MABIMS yang dikenal sebagai kriteria (2, 3, 8) adalah tinggi minimal hilal 2°, jarak sudut bulan – matahari 3°, umur bulan minimal 8 jam. Draft keputusan muzakarah Negara-negara MABIMS yang berlangsung tanggal 9 – 11 Oktober 2019 di Yogyakarta (penulis hadir sebagai perwakilan PUI), mengusulkan kriteria baru. 

Kriteria baru itu, yakni tinggi hilal minimum 3° dan elongasi minimal 6,4 ° Penetapan dan pengumuman Awal Ramadhan dan Idul Fitri di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dilakukan dalam sidang itsbat yang diselenggarakan oleh Kemenag RI. Wallahu a’lam bishowab. (Selesai)***


* Penulis, Dosen Ilmu Falak UNISBA, Anggota Dewan Syariah Pusat Persatuan Umat Islam (PUI), Anggota Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia Kota Cimahi.

Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait