Kabar Baik dari Menkes, dalam Dua Bulan Terakhir Kasus Covid-19 di Indonesia Mengalami Penurunan

Nasional —Senin, 15 Mar 2021 20:36
    Bagikan:  
Kabar Baik dari Menkes, dalam Dua Bulan Terakhir Kasus Covid-19 di Indonesia Mengalami Penurunan
Menkes, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan, dalam dua bulan terakhir kasus Covid-19 di Indonesia mengalami penurunan. (setkab.go.id)

POSKOTAJABAR, JAKARTA. 

Kabar baik terkait kasus Covid-19. Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menyatakan, dalam dua bulan terakhir kasus Covid-19 di Indonesia mengalami penurunan. "Terjadi penurunan yang cukup drastis dari sisi confirmed cases," ujar Menkes Budi dalam rapat kerja dengan DPR RI di Jakarta, Senin (15/03/2021).

Berdasarkan informasi dari laman resmi Covid-19.go.id, Indonesia tercatat mengalami penurunan sejak 30 Januari 2021. Saat itu, jumlah kasus positif Indonesia per hari sampai 14.518 kasus postifi Covid-19.

BACA JUGA:  Vaksin AstraZeneca Belum Digunakan untuk Target Vaksinasi Nasional, Ini Alasan Pemerintah Indonesia

Menurut Budi Gunadi, angka ini pun menjadi rekor tertinggi kasus terkonfirmasi Covid-19 sejak setahun pandemi melanda Indonesia. Akan tetapi, lambat laun kasusnya terus menurun hingga mencapai 4.714 per 14 Maret 2021.

Budi menambahkan, selain kasus positif, penurunan terjadi pada rata-rata kematian. Rekor tertinggi terjadi pada 28 Januari 2021 dengan 476 kematian per hari. Sementara, data pada 14 Maret 2021 terakhir turun menjadi 97 orang.

BACA JUGA:  Kehadiran Ezra Walian Dinilai Semakin Memperkuat Cita Rasa Belanda di Tim Persib Bandung

Selain itu, Menkes Budi Gunadi Sadikin juga menjelaskan, untuk bed occupancy rate atau tingkat keterisian kamar rumah sakit juga menurun. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi membeberkan kemampuan Indonesia dalam mendeteksi varian baru virus SARS- Cov-2 masih tertinggal bila dibandingkan negara lain.

"Strategi untuk testing dan tracing varian baru sudah kita galakkan sejak Januari, karena dalam setahun kita baru menghasilkan 172 testing sekuensing genomik (pengurutan DNA). Sehingga, kalau ada varian baru sulit teridentifikasi. Padahal, di beberapa negara sudah 10.000 testing setahun," ungkap Budi. (Poskota/nst)

Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait