Malangnya Nasib Rahma, Selama Tujuh Tahun Hidup Dalam Pasungan karena Dianggap ODGJ

Jawa Barat —Rabu, 17 Mar 2021 04:32
    Bagikan:  
Malangnya Nasib Rahma, Selama Tujuh Tahun Hidup Dalam Pasungan karena Dianggap ODGJ
Rahma yang dipasung kedua kakinya hampir tujuh tahun lamanya. (Kris)

POSKOTAJABAR, TASIKMALAYA.

Malang benar nasib Rahma. Selama tujuh tahun ia harus menjlni hidup dalam pasungan. Perilaku dia dianggap mengkhawatirkan. Sehingga, orang tuanya memutuskan untuk memasung Rahma. Sejak ia masih duduk di kelas lima sekolah dasar (SD) hingga saat inimasih terlilit rantai di kedua kakinya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, yang menerima laporan dugaan adanya anak dibawah umur yang diduga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) langsung bergerak. Rahma yang dipasung selama tujuh tahun, di Kampung Ciherang Desa Sindangjaya Kecamatan Cikalong, berupaya untuk dibebaskan dan direhabilitasi.

Peristiwa pemasungan terhadap Rahma, akibat  tidak adanya perhatian khusus dari pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya. Padahal, pemasungan yang dialami Rahma sudah berlangsung cukup lama.

BACA JUGA:  Dinding Kamar Warga Cibadak Kabupaten Sukabumi Roboh Akibat Longsor

Mendapati kabar anak tersebut dipasung, tim yang dipimpin langsung Ketua KPAID Ato Rinanto, Senin (15/03/2021), langsung meluncur ke lokasi. Setelah diskusi dengan orang tuanya, tim memutuskan membawa korban pasung untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

Ketika akan dibuka, pihak KPAID kesulitan untuk membuka kunci gembok yang menempel pada rantai pengikat kaki korban. Sehingga untuk bisa membukanya sampai harus menggunakan palu dan kapak.

Ketua KPAID, Ato Rinanto, mengatakan, pihaknya menerima laporan bahwa ada anak dibawah umur yang mengalami ODGJ. Dalam laporan tersebut, bahwa anak ini sudah hampir tujuh tahun dipasung, sejak anak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar (SD).

"Namun setelah kami cek, kami verifikasi, ternyata anak tersebut sudah masuk kategori dewasa, karena sudah menginjak usia 19 tahun. Akhirnya kami membawa anak tersebut ke Yayasan Darul Ihsan Kota Tasikmalaya untuk mendapat penanganan lebih khusus lagi," ujarAto, Selasa (16/03/2021).

Terkait masalah ini, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Daerah dalam hal ini mungkin instansi terkait, salah satunya dengan pihak Dinas Sosial.

BACA JUGA:  Seorang Pria Asal Kelurahan Muka Kecamatan Cianjur Sengaja Meloncat ke Sungai Cianjur

Sementara itu, Ibu korban Pasung, Beti,  menceritakan awal mula anaknya menderita penyakit tersebut. "Saat tiba di rumah dia langsung teriak-teriak, kemudian  tengah malam kembali teriak-teriak lagi seperti orang ketakutan," ucapnya

Tak hanya sampai di situ, anaknya marah-marah kepada keluarga, bahkan sampai merusak rumah. Karena khawatir atas prilakunya, pihaknyai terpaksa memasungnya, sudah hampir tujuh tahun.

Sementara itu, Pimpinan Yayasan Darul Ihsan, H. Maman, menyampaikan, setelah nanti anak ini dievakuasi dan dibawa ke yayasan, akan direhabilitasi.

Kkalau dalam bahasa Sunda mah disyare'atan. Kami tetap akan melakukan koordinasi dengan pihak KPAID, bagaimana langkah-langkah selanjutnya," papar Maman. (Kris)

Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait