Akibat Gempa, Shinkansen Distop Sementara, Terjadi Penumpukan Penumpang di Beberapa Stasiun di Jepang

Internasional —Minggu, 21 Mar 2021 13:50
    Bagikan:  
Akibat Gempa, Shinkansen Distop Sementara, Terjadi Penumpukan Penumpang di Beberapa Stasiun di Jepang
Staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, Jepang, Andri Sumaryadi. (Ist)

POSKOTAJABAR, TOKYO.

Terjadi penumpukan penumpang di beberapa stasiun kereta di Jepang. Hal itu menyusul dihentikannya untuk sementara kereta api cepat Shinkansen akibat gempa yang terjadi terjadi di semenanjung Miyagi di kedalaman 59 km, dengan kekuatan gempanya 6,9 Magnitudo. Gempa ini, mengakibatkan goyangan sebesar 5 Skala Richter (SR) di Prefektur Iwate, Prefektur Miyagi, Prefektur Fukushima, dan di wilayah Hokkaido sampai Prefektur Saga.

Staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, Andri Sumaryadi, yang dihubungi POSKOTAJABAR, mengungkapkan, kereta api cepat Shinkansen jurusan Tokyo-Morioka juga sempat distop untuk sementara. 

"Di stasiun sempat terjadi penumpukan penumpang akibat kereta api cepat Shinkansen tidak beroperasi untuk sementara. Banyak yang batal berangkat. Ada yang kembali ke rumah masing-masing bagi yang tinggal di Tokyo. Sedangkan yang berasal dari kota lain terpaksa menginap di hotel," ungkap Andri Sumaryadi saat dihubungi melalui WhatApps, Minggu (21/03/2021).

BACA JUGA: Pendaratan Darurat Pesawat Trigana Air Mirip Batik Air, Sama-sama Return To Base

Menurut Andri Sumaryadi, pada Minggu (21/03/2021) sekitar pukul 06.30 pagi waktu Tokyo, ada laporan bahwa 8 orang terluka di Kota Miyagi dan Kota Sendai, akibat gempa itu. Setelah gempa besar 6,9 Magnitudo itu, terjadi beberapa kali gempa susulan.

"Cuaca di Jepang untuk hari ini juga kurang bagus karena diperkirakan akan turun hujan lebat. Kantor Meteorologi Jepang pun menghimbau masyarakatnya agar berhati-hati terhadap gempa berikutnya yang bisa mencapai kekuatan 5 SR dan berhati hati terhadap longsor akibat goncangan gempa<" tutur Andri

Sejauh ini, lanjut Andri, belum ada laporan korban jiwa. Dampak yang paling terasa adalah tidak beroperasinya kereta cepat Shinkansen dari Stasiun Omiya sampai Setasiun Hachinohe, yang untuk sementara distop dulu. 

Hanya di kota Natori, lebih dari 90 orang sempat diungsikan karena kota ini sangat dekat dengan pantai. Di Kota Natori ini, telah disiapkan 9 tempat pengungsian. Kemudian, di Kota Tome telah terjadi mati lampu atau pemadaman listrik untuk sekitar 30 rumah akibat kerusakan pada peralatannya.

"Masyarakat Kota Natori ccukup takut karena kuatir terjadi lagi gempa yg sama seperti 10 tahun yang lalu, saat gempa mencapai 9 Magnitudo lebih yang menimbulkan tsunami besar dan goncangan dahsyat," tutur Andri Sumaryadi.

BACA JUGA: Wajah Putri Indonesia 2019 Bengkak Seperti Dipukuli Orang, Jadi Korban Malapraktek Klinik Kecantikan

Namun sekarang, menurut Pemkot Natori,  masyarakat yg diungsikan telah kembali semuanya ke rumah masing-masing. Kemudian, peringatan tsunami saat ini sudah dicabut semuanya. 

Mengenai Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Jepang, juga dilaporkan Andri Sumaryadi tidak dan belum ada laporan mengenai  imbas dan dampak dari gempa tersebut. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Jepang kembali dilanda gempa dan tsunami. Kali ini, gempa berkekuatan Magnitudo 7,2 pada kedalaman 60 Km dengan lokasi di pantai timur laut Jepang atau di daerah Prefektur Miyagi, hari Sabtu (20/03/2021) petang sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Akibat gempa bumi ini menimbulkan tsunami sekitar 1 meter. (nst)

Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait