Ratusan Jaring Alat Tangkap Benih Bening Lobster Hasil Operasi di Pangandaran Dimusnahkan

Jawa Barat —Rabu, 7 Apr 2021 05:56
    Bagikan:  
Ratusan Jaring Alat Tangkap Benih Bening Lobster Hasil Operasi di Pangandaran Dimusnahkan
Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Pangandaran Ujang Endin Indrawan serta stakeholder lainnya saat memusnahkan 250 jaring rumpon alat tangkap BBL hasil penertiban petugas gabungan (fo
POSKOTAJABAR, PANGANDARAN.
Barang bukti berupa jaring rumpon sebagai alat tangkap Benih Bening Lobster (BBL) sebanyak 250 jaring dimusnahkan dengan cara dibakar, pemusnahan berlangsung di lapang Ketapang Doyong Pantai Timur, Selasa (06/04/2021). Sementara barang bukti lainnya yang di sita diantaranya 12 mesin genset, 4 aki, 16 perahu, 20 lampu gantung dan 7 set tambang.

Pemusnahan ratusan jaring rumpon hasil penertiban petugas gabungan di perairan wilayah Pangandaran itu dihadiri Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Pangandaran Ujang Endin Indrawan, Tokoh Masyarakat sekaligus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Kaporles Ciamis AKBP Hendria Lesmana, Camat Pangandaran Yadi Setiadi, Kapolsek Pangandaran Kompol Suyadi, Kasat Polair Polres Ciamis AKP Sugianto, Danramil 1320/Pangandaran, Kejari Ciamis Yuyun Wahyudi, Ketua Pengadilan Negeri Ciamis Akbar Iswanto, Komandan Pos TNI AL Pangandaran Kapten Laut PM Toto Sukarto, PSDKP Pangandaran Nanang Priyanto, Wakil Ketua HNSI Pangandaran, M. Yusuf dan Ketua KUD Minasari Pangandaran Datam.
 
Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata mengatakan, bahwa alat-alat penangkap benur yang dimusnahkan merupakan hasil sitaan tim gabungan saat melakukan penertiban alat tangkap Benih Bening Lobster (BBL) di wilayah perairan di Kabupaten  Pangandaran.

"Petugas gabungan yang melakukan penertiban beberapa waktu lalu diantaranya Polair Polres Ciamis, TNI AL, Satpol PP, PSDKP Pangandaran, HNSI, Satgas Jaga Lembur dan tim SAR lainnya," ujarnya kepada wartawan di lapang Ketapang Doyong usai memusnahkan barang bukti ratusan jaring rumpon alat tangkap BBL, Selasa (06/04/2021).

Kata dia, pemusnahan ini terpaksa lakukan dan ini juga untuk kepentingan nelayan kedepannya, penertiban alat tangkap BBL ini akan terus berlanjut.


"Sejak nelayan tangkap BBL belum kita tindak, keberadaan ikan layang dan cumi sudah sangat langka, karena efek dari perburuan benur, ekosistem rantai makanan jadi berubah," katanya.


"Kita langsung eksekusi, tidak ada lagi sosialisasi ini sangat lah berdampak sekali dengan penangkapan BBL ini, lobster menjadi hilang. Yang biasa dapat 2 sampai 3 miliar di KUD sekarang hilang," ungkap Jeje. 

Jeje berharap pemerintah pusat lebih tegas lagi dalam kebijakan terhadap Penangkapan BBL. Karena dalam dalih apapun, untuk budidaya sampai sekarang ini belum ada yang berhasil dengan baik.

"Bukan hanya Lobsternya saja, tapi mulai dari cumi mulai hilang, teri hilang, layang juga sama. setahun kemarin saya sudah tidak melihat ikan layur," sebutnya.


Menghargai Kekompakan Aparat

Dalam kesempatan itu, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengaku, dirinya sangat menghargai kekompakan aparat, pemerintah daerah, masyarakat  dan nelayan yang sudah turut serta dalam penyitaan alat penangkap benur.

"Ternyata kalau mau bisa dan kita harus percaya bahwa kalau bibit habis ya lobsternya gak ada," cetusnya.

Menurut dia, jika lobster habis maka hewan laut yang masuk kedalam rantai makanan, juga akan turut habis, seperti ikan habis dan juga cumi bakal habis juga. Jika penindakan terhadap penangkap benur terus dilakukan, maka jumlah lobster di Pangandaran akan kembali normal.

"Keberlanjutan sumber daya laut adalah sangat penting, semoga tidak hanya hari ini," ucapnya.

Susi berharap, seluruh wilayah Indonesia yang memiliki perairan laut, bisa mengikuti jejak Pangandaran dalam pelarangan penangkapan benur.

"Warga masyarakat juga harus ikut mengawasi jangan sampai memberiarkan apa bila melihat ada nelayan yang menangkap baby lobster," pungkasnya. (dry)

BACA JUGA: Hilangnya Uang Nasabah di ATM, YLPKN Jabar Minta BRI Bisa Selesaikan dengan Cepat

Editor: Suherlan
    Bagikan: