Tidak Punya Dana Cadangan, Usaha Mikro Cepat Kolaps

Jawa Barat —Rabu, 14 Oct 2020 17:15
    Bagikan:  
Tidak Punya Dana Cadangan,  Usaha Mikro Cepat Kolaps
Usaha kuliner di Kota Bandung .(foto:dok:aris)





BANDUNG, POSKOTAJABAR.

Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Iwan Gunawan mengatakan jumlah pelaku usaha di Jabar sangat banyak, 90 persen lebih adalah pelaku UMKM.

"Kondisinya secara umum di masa pandemi ini, lagi sulit. Baik yang ultra mikro, mikro dan kecil. Ini tantangan terbesar, yang belum dialami di masa-masa sebelumnya," katanya saat dihubungi via telepon, Rabu (14/10/2020).

Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Iwan Gunawan. (foto:dok:aris)
Dalam kondisi seperti ini, yang bisa dilakukan sebagian besar pelaku usaha adalah bertahan, bisa merespon, dan bisa beradaptasi dalam kondisi yang belum pernah dipelajari dari literatur apapun.

"Tapi saya kira, sebagai pelaku usaha, kita akan selalu gelorakan panji-panji semangat berwirausaha di tengah masyarakat yang tengah mengalami berbagai keterbatasan, dan dibatasi pergerakannya," katanya.

Maksudnya, dalam kondisi pandemi ini, setiap usaha pasti akan mengalami kesulitan atau penurunan penjualan yang berakibat terhadap resiko operasional, resiko keuangan.

"Dari penjualan turun berdampak pada resiko keuangan. Dari resiko keuangan berdampak pada resiko operasional usaha, dan terakhir berdampak signifikan pada reputasi usaha tersebut," terangnya.

Untuk usaha mikro, kondisinya tetap saja, berbagai persoalan juga mendera mereka. Terlebih mereka tidak punya alokasi dana cadangan.

"Mereka punya nafas yang sangat pendek, jadi di Bulan Maret kena pandemi, di bulan April dan bulan Mei sudah banyak yang kolaps. Mereka kan tidak punya dana cadangan," terangnya.

Iwan Gunawan juga mengatakan hingga saat ini sudah ada 50 persen usaha mikro yang gulung tikar. Usaha kecil, masih ada yang bertahan, terutama yang sektor usahanya beririsan dengan kebutuhan pandemi, dan kebutuhan dasar manusia.

"Kawan-kawan yang usaha di bidang herbal justru banyak yang kesulitan, kesulitan disurvei bahan baku, jumlahnya sedikit," terangnya.

Secara umum, kata Iwan, secara umum partofolio UMKM di Jabar terbagi tiga yaitu kuliner, fasyen dan industri kreatif.

Bagaimana caranya agar pandemi ini bisa diminimalisir, caranya menurut Iwan Gunawan, harus digelorakan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya protokol kesehatan.

"Agar aktivitas masyarakat tidak terganggu 100 persen, akibat pandemi. Tetapi aktivitas ekonomi bisa jalan," terangnya.

Jadi jalan tengah yang pertama, bagaimana pemerintah memberikan peluang luar biasa kepada pelaku usaha untuk membuat pembatasan pembatasan yang terkelola dan sifatnya tidak harus satu kota.

Jangan tengah yang kedua, bagaimana energi pemerintah dialokasikan untuk menumbuh kembangkan usaha masyarakat.
"Jadi alokasi dana pemerintah harus diarahkan kesana. Temasuk di dalam belanja makanan dan sebagainya," pungkasnya. (Aris)
Editor: Suherlan
    Bagikan:  


Berita Terkait