Inflasi Kota Tasikmalaya Tahun 2020 Terendah di Jawa Barat

Jawa Barat —Kamis, 7 Jan 2021 13:10
    Bagikan:  
Inflasi Kota Tasikmalaya Tahun 2020 Terendah di Jawa Barat
Salah seorang pedagang tengah berjualan di Pasar Pancasila Kota Tasikmalaya.. (foto:kris)
POSKOTA JABAR, TASIKMALAYA.

Pada bulan Desember 2020, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Tasikmalaya mengalami inflasi 0,26% (mtm), sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,27% (mtm) dan merupakan yang terendah di Jawa Barat.

Demikian diungkapkan, Kepala Pewakilan Bank Indonesia Wilayah Tasikmalaya, Darjana, Rabu(06/01/2021).





Menurutnya, dengan perkembangan tersebut, inflasi keseluruhan tahun 2020 adalah 1,61% (yoy), lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1,72% (yoy) maupun rata-rata 3 tahun terakhir sebesar 2,63% (yoy) sebagai dampak dari penurunan konsumsi masyarakat secara umum akibat covid-19.

Kata dia, sama dengan kondisi nasional, pada bulan Desember 2020 tekanan inflasi di Kota Tasikmalaya terutama berasal dari kelompok bahan makanan yang didorong kenaikan permintaan pada akhir tahun sementara pasokan terbatas akibat curah hujan tinggi. 







Menurut dia, Telur ayam ras masih menjadi penyumbang utama inflasi sesuai dengan pola historisnya yang dalam 5 tahun terakhir mengalami kenaikan harga. Sejak pada akhir tahun karena peningkatan permintaan untuk bansos dan konsumsi rumah tangga, sementara produktivitas ternak menurun saat musim hujan. 

Apalagi, Harga telur ayam ras pada akhir Desember tercatat pada kisaran Rp25.000/kg, atau mengalami inflasi 10,77% (mtm). Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada cabai rawit, tomat, daging ayam ras, dan wortel. Di sisi lain, terjadi penurunan harga pada daun bawang dan bawang merah didukung pasokan dari Jawa Timur yang mulai stabil dan di luar bahan makanan, penurunan harga terutama terjadi pada emas perhiasan.







Adapun secara tahunan, penyumbang kenaikan harga tertinggi sepanjang tahun 2020 adalah emas perhiasan yang mengalami inflasi 28,87% (yoy) seiring dengan tren kenaikan harga emas dunia akibat ketidakpastian pasar keuangan global yang terutama melonjak pada bulan Agustus. 

Penyumbang utama inflasi selanjutnya adalah rokok kretek filter sebagai dampak dari penetapan kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23% atau kenaikan harga eceran sebesar 35% pada awal 2020 lalu. 







Di sisi lain, harga beras, jeruk, buncis, bawang merah, dan bawang putih terpantau menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Mudah-mudahan Ke depan, inflasi tahun 2021 diperkirakan lebih tinggi didorong kenaikan konsumsi masyarakat seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi. 

Maka itu, untuk komoditas administered prices, pemerintah telah menetapkan kenaikan tarif iuran BPJS Kesehatan, bea materai, dan cukai rokok sebesar 12,5%. Risiko kenaikan harga juga diperkirakan berasal dari minyak kelapa sawit sebagai implikasi dari kenaikan permintaan sejalan dengan pemulihan aktivitas ekonomi global. 

Memasuki awal Januari 2021, kenaikan harga terpantau terjadi pada emas perhiasan, kedelai, dan cabai rawit. Sementara secara historis, tekanan inflasi pada bulan Januari umumnya berasal dari beras, tomat, cabai rawit, cabai merah, serta daging dan telur ayam ras," paparnya. (Kris)






Editor: Suherlan
    Bagikan:  


Berita Terkait