P2TP2A Kabupaten Bandung Barat di Awal Tahun Terima Dua Pengaduan Pelecehan Anak Dibawah Umur

Jawa Barat —Sabtu, 9 Jan 2021 06:49
    Bagikan:  
P2TP2A Kabupaten Bandung Barat di Awal Tahun Terima Dua Pengaduan Pelecehan Anak Dibawah Umur
Ilustrasi. P2TP2A Kabupaten Bandung Barat di Awal Tahun Terima Dua Pengaduan Pelecehan Anak Dibawah Umur/ (foto:Ist)

POSKOTAJABAR, NGAMPRAH,

Divisi Pendampingan dan Pemulihan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bandung Barat, Ade Nana Rohana mengungkapkan, awal tahun 2021 sudah menerima dua aduan masalah pelecehan terhadap anak dibawah umur.

Diakui oleh Ade, aduan tersebut yaitu pelecehan terhadap anak perempuan yang baru berusia 12 tahun dan satunya lagi terhadap anak yang berusia 13 Tahun.

 

 

BACA JUGA :  PSBB Kota Bandung Semakin Ketat, Pengawasan dan Penindakan akan Lebih Tegas Dilakukan

 

 

Yang jadi masalahnya, kata Ade, kedua kejadian tersebut, modus operandinya nyaris sama dengan pelaku orang-orang yang terdekat disekitar korban.

Seperti korban terhadap anak gadis berumur 12 tahun tersebut yang Baru duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD), warga penduduk Kecamatan Cipongkor, dilecehkan oleh seorang oknum guru honorer (38).

 

Sedangkan korban yang kedua yaitu anak yang berusia 13 tahun, penduduk Kecamatan Lembang , dilecehkan oleh seorang pria berumur (40) yang berprofesi sebagai buruh.

 

 

BACA JUGA  :Bedanya Gejala Tifus dan Covid-19, Kamu Harus Tahu

 

 

Menurut Ade kembali, bahwa kejadian pelecehan seksual tersebut, terjadi pada tahun 2020 yang baru lalu, 

"Tapi kita baru menerima pengaduannya awal tahun baru, pelakunya, kedua-keduanya belum ditangkap  untuk korban orang Cipongkor, tapi sudah ditangani Polsek Sindangkerta, Kalau orang Lembang, sudah ditangani oleh pihak Polres,” katanya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Eriska Hendrayana, sebagai Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) KBB, bahwa persoalan pelecehan terhadap anak, tidak bisa ditangani oleh salah satu pihak saja.

"Namun, perlu kerjasama seluruh komponen masyarakat, mulai dari upaya preventif, penanganan hingga pendampingan agar menekan angka kasusnya," kata Eriska.

 

 

 

BACA JUGA   : Sekretaris Daerah Kota Bandung Pastikan Roda Pemerintahan Tetap Berjalan

 

 

 

Menurut Eriska kembali, bahwa organisasi yang bergerak dalam ranah anak dan perempuan tersebut sudah ada. Mulai dari Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD), Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), P2TP2A dan Forum Anak.

"Untuk menekan seminim mungkin masalah persoalan pelecehan anak, hal ini perlu adanya kesinambungan dari semua organisasi yang terkait bergerak secara maksimal dan bersinergi, Katanya.

 

 

BACA JUGA  : Tingkat Hunian Pasien Covid-19 di ICU RSHS Bandung 92,85 persen

 

 

Begitupula menurut Arie Zaenal Alamo dari Divisi informasi dan Advokaai P2TP2A KBB, semua dari dampak pandemi Covid-19, kaus pwlecehan terhadap anak makin bertambah.

“Masa pandemi Covid-19 ikut sebagai kontribusi terhadap pelecehan anak, karena dalam rentang waktu, sesuai pengaduan yang masuk ke kita, peristiwa itu terjadi sejak bulan Maret tahun lalu," papar Arie.

Diharapkan oleh Arie, agar masyarakat harus peka terhadap anaknya dan lingkungannya, karena setiap kejadian pelecehan terhadap anak, pelaku melakukannya dimana ada kesempatan. (Bagdja)





BACA JUGA  :Satu Guru dan Murid Terkonfirmasi Positif Covid-19, Disdik Pertimbangkan Pelaksanaan KBM Tatap Muka 

 

Editor: Suherlan
    Bagikan:  


Berita Terkait