Politisi PDI-Perjuangan Ribka Tjiptaning Tolak Divaksin, Ini Pernyataan Kontroversialnya yang Viral di Media Sosial

Jawa Barat —Rabu, 13 Jan 2021 10:37
    Bagikan:  
Politisi PDI-Perjuangan Ribka Tjiptaning Tolak Divaksin, Ini Pernyataan Kontroversialnya yang Viral di Media Sosial
Anggota DPR Komisi IX dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Ribka Tjiptaning. (ist)

POSKOTAJABAR, JAKARTA.

Anggota DPR Komisi IX dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Ribka Tjiptaning sempat melontarkan  sejumlah pernyataan kontroversial dalam rapat kerja Komisi IX pada Selasa (12/1/2021) menjadi viral di media sosial (medsos).

Agenda rapat tersebut dihadiri juga Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Kepala BPOM Penny Lukito, dan Direktur PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir.

Bahkan dengan tegas ia menolak untuk divaksin Covid-19. Tidak hanya itu ia mengaku memilih membayar denda ketimbang disuntik vaksin Covid-19.

 

BACA JUGA : Harga Cabe Rawit di Kabupaten Pangandaran Alami Lonjakan

 

"Kedua, kalau persoalan vaksin saya tetap tidak mau divaksin maupun sampai yang 63 tahun bisa divaksin, saya sudah 63 tahun nih. Misalnya hidup di DKI Jakarta semua anak cucu saya dapat sanksi Rp5 juta mending saya bayar," ujarnya dalam rapat di Komisi IX.

Ribka mengisyaratkan masih meragukan vaksin covid-19. Berkaca dari pengalaman pemberian sejumlah vaksin lainnya, yang justru membuat orang lumpuh hingga meninggal dunia. Misalnya, vaksin antipolio membuat sejumlah orang lumpuh di Sukabumi dan vaksin kaki gajah di Majalaya menyebabkan 12 orang meninggal dunia.

 

BACA JUGA : Banjir Citarik Memutus Jalur Cicalengka hingga Merendam Rumah Warga

 

"Saya yang pertama bilang saya yang pertama menolak vaksin. Kalau dipaksa pelanggaran HAM tidak boleh memaksa begitu," tegasnya.

Tidak hanya itu, ia juga memaparkan dengan gamblang  soal komersialisasi atau bisnis tes swab covid-19 di rumah sakit.

Pasalnya, ia mendapati tes swab dipatok dengan harga yang berbeda pada sejumlah rumah sakit.

Ia mencontohkan salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Pusat mematok tarif tes swab sebesar Rp3,5 juta dengan hasil 3 hari. Sedangkan, untuk hasil tes swab dalam satu hari harganya naik hampir 2 kali lipat yakni Rp6,5 juta.

Sementara itu, ia melakukan tes swab di salah satu klinik dengan harga hanya Rp900 ribu.

"Ini patokannya memang lama pemeriksaan atau memang karena duitnya," ujarnya. (rizal/tri)

Editor: Dikki
    Bagikan:  


Berita Terkait