Tradisionalitas dan Modernitas sebagai Arah Nahdlatul Ulama di Jerman

Pendidikan —Rabu, 13 Jan 2021 14:02
    Bagikan:  
Tradisionalitas dan Modernitas sebagai Arah Nahdlatul Ulama di Jerman
Salah satu kegiatan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di Jerman. (foto:ist)

POSKOTAJABAR, BERLIN.

Komunitas Nahdlatul Ulama (NU) atau Nahdliyin di Jerman yang bermula pada tahun 2010, kini telah menjelma secara resmi menjadi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman.

Surat Keputusan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sudah dikantongi mereka terhitung sejak tahun 2018. Selain itu perizinan sebagai asosiasi yang terdaftar di pemerintah Jerman juga sudah diperoleh sejak tahun 2020.  

Dilansir dari NU Online, Ketua PCINU Jerman M Rodlin Billah menyampaikan bahwa organisasi yang dia pimpin tersebut berjalan pada dua arah sekaligus, yakni pemertahanan tradisi dan penerapan modernisasi. 

"Dengan segala keterbatasannya, tampaknya PCINU Jerman sedang meniti jalan menanjak untuk menjadi melting pot (peleburan) dua hal yang sering dikesankan bertolakbelakang: tradisionalitas dan modernitas," katanya pada Senin (11/1/2021).  

 

BACA JUGA : Harga Cabe Rawit di Kabupaten Pangandaran Alami Lonjakan

 

Billah juga menjelaskan bahwa pemerintah Jerman secara proaktif sedang mencari bentuk interpretasi dan implementasi terbaik dari Islam sebagai agama.

Hal yang paling utama dari pencarian itu agar proses integrasi masyarakat Islam di Jerman dapat berjalan dengan baik.  Begitu juga dengan nilai-nilai Islam dapat hidup berdampingan dengan 'Grundgesetz', konstitusi dasar negara Jerman. 

Salah satu upaya terukur, misalnya, inisiatif Kementerian Dalam Negeri Jerman berupa "Deutsche Islam Konferenz" (Konferensi tentang Islam Jerman) yang diadakan sejak tahun 2006. Fungsinya mempromosikan dengan dialog antara pemerintah Jerman dengan berbagai komunitas muslim guna menemukan kesesuaian dalam nilai-nilai Islam dengan dasar-dasar negara tersebut.

 

BACA JUGA : Banjir Citarik Memutus Jalur Cicalengka hingga Merendam Rumah Warga

 

 

Hal tersebut sama dengan Islam Nusantara dan Pancasila sebagai asas tunggal. Istilah Islam Nusantara memicu kontroversi di dalam negeri sendiri. Akan tetapi, Jerman juga merasa tidak puas dengan gambaran 'Islam' yang selama ini telah hadir sejak puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya.  

Maka, PCINU Jerman meyakini Islam Nusantara menjadi pilihan yang tepat bagi negaranya Manuel Neuer itu.

"PCINU Jerman percaya bila metodologi Islam Nusantara, dengan basis ahlussunnah wal jamaah yang menjadikan karakter moderat menjadi turunannya, dapat menjadi solusi alternatif. Mungkin saja ini adalah hadiah dari NU untuk Jerman," katanya.   

Selain itu, mayoritas pengurus, anggota, juga simpatisan PCINU Jerman merupakan Nahdliyin yang menjadi tenaga ahli juga  pelajar dalam bidang sains dan teknologi dalam berbagai jenjang pendidikan, mulai dari vokasi, S1 hingga S3, bahkan profesor dan dalam berbagai profesi dari bidang teknologi informasi, pesawat terbang, hingga virologi.  

Dengan segala kelebihannya, khususnya melimpahnya insentif dari pemerintah maupun industri, pria yang akrab disapa Gus Oding itu mengungkapkan bahwa Jerman merupakan surga bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang-bidang tersebut.

Gus Oding menegaskan bahwa tidak ada yang menahan proses transfer pengetahuan dan keahlian yang dimiliki para Nahdliyin ini untuk Indonesia pada umumnya ataupun NU pada khususnya, kecuali bila keinginan untuk berkhidmah telah tiada.

 

BACA JUGA : Politisi PDI-Perjuangan Ribka Tjiptaning Tolak Divaksin, Ini Pernyataan Kontroversialnya yang Viral di Media Sosial

 

 

Pengajian di Jerman

PCINU Jerman juga membuka pengajian kitab Aqidatul Awam karya Syekh Ahmad Marzuqi dengan syarahnya, Nurudh Dholam karya Syekh Nawawi Al-Bantani.

Selain itu juga Nahdliyin Jerman mendiskusikan tulisan Ian Barbour dalam Religion and Science ataupun Stephen Hawking dalam A Brief History of Time.  

Tidak hanya itu, mereka juga disuguhkan kajian fiqih bersuci melalui At-Tadzhib, Al-Muqtathafat; juga mendiskusikan beragam solusi agar Covid-19 tak begitu saja menyebar di berbagai pondok pesantren, hingga agar pembalut wanita Indonesia tak menjadi penyebab banjir sebab dibuang sembarangan di sungai-sungai.    

Upaya lain yang terus dilakukan adalah meneladani akhlak agung Nabi Muhammad SAW dengan pembacaan Maulid Simtudduror, tak lupa juga akhlak para salafush shalih, muassis, serta masyayikh dengan pembacaan manaqib dalam peringatan haulnya. (dwa)

 

Editor: Dikki
    Bagikan:  


Berita Terkait