Cara Kerja Black Box dan Proses KNKT Membacanya

Gaya Hidup —Kamis, 14 Jan 2021 16:06
    Bagikan:  
Cara Kerja Black Box dan Proses KNKT Membacanya
Penemuan Black Box. foto poskota

POSKOTAJABAR, BANDUNG

Black Box pesawat Sriwijaya Air SJ182 telah berhasil ditemukan oleh Tim Gabungan. Hasil penemuan ini segera diamankan oleh KNKT dan KNKT perlu sekitar 2-5 hari untuk membuka isi dari FDR Black Box. KNKT akan bekerja sama dengan Tim NTSB dan pabrikan pesawat. 

FDR biasanya menyimpan data seputar infromasi pesawat. Alat ini merekam data-data teknis pesawat, seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, autopilot, dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan.

Saat ini Tim Gabungan berfokus mencari satu lagi Black Box yang hilang yakni CVR yang menyimpan informasi penting berupa percakapan pilot dan co-pilot. 

Terdapat beberapa peraturan yang harus dipatuhi ketika, black box yang ditemukan di dalam air harus dikemas di dalam air pula.

Dalam hal ini, pengemasan dilakukan di dalam air tempat ditemukan. Setelah itu, benda itu dimasukkan ke dalam kotak dan dilapisi dengan bubble wrap atau dilindungi dengan gabus agar terlindung dari segala kemungkinan buruk selama pengiriman.

BACA JUGA : OKK PWI Jabar di Awal Tahun 2021 Disambut Antusias para Wartawan

Lantas sebenarnya apa yang dimaksud dengan Black Box?

Dalam setiap kecelakaan pesawat yang terjadi, Black Box adalah salah satu benda yang paling dicari. Black box menyimpan seluruh informasi yang diperlukan tim penyidik guna memastikan penyebab pasti kecelakaan pesawat. Perangkat ini menyimpan percakapan yang terjadi antara pilot kepada kru atau menara pengawas. Bagaimana cara kerjanya?

Dikutip dari Flightradar24, black box adalah istilah dalam industri penerbangan untuk menyebut perekam data penerbangan elektronik, yang menggambarkan Cockpit Voice Recorder (CVR) atau Flight Data Recorder (FDR), atau kombinasi keduanya.

black box

foto : Wikipedia

Berdasarkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), baik FDR maupun CVR terdiri dari 3 bagian. Pertama adalah kotak yang menghubungkan black box dengan instrumen yang akan direkam.

Kedua adalah kotak tempat alat untuk merekam berada, seperti kaset, CD, atau chip. Sedangkan yang bundar adalah underwater locator beacon (ULB) yang bisa dilacak sinyalnya apabila pesawat jatuh ke dalam air. ULB ini merupakan transmitor yang akan memancarkan gelombang akustik untuk memudahkan pendeteksian.

BACA JUGA:  Kota Bandung Menyiapkan 191 Faskes untuk Menjadi Lokasi Vaksinasi Covid-19

Yang membedakan CVR dengan FDR adalah, FDR berfungsi untuk merekam data-data penerbangan. Alat ini merekam data-data teknis pesawat, seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, autopilot, dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini.

FDR mempunyai durasi rekaman hingga 25-30 jam. Artinya, setelah 25-30 jam, data akan terhapus dengan sendirinya. CVR dan FDR ini akan hidup secara otomatis apabila mesin pesawat dihidupkan.


Bagaimana Proses KNKT Membaca Black Box?
Benda itu harus diamankan dan hanya dapat dibuka oleh pihak yang memiliki otoritas dan kewenangan untuk melakukannya.

Di Indonesia otoritas yang berwenang adalah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tim NTSB dan pabrik pesawat. Pihak pemeriksa akan mengunduh data yang tersimpan di black box kemudian disimpan dalam format digital agar data aman.

BACA JUGA:  SBY Kenang Syekh Ali Jaber Sebagai Sosok Ulama yang Meneduhkan

Bagaimana bila black box mengalami kerusakan? Kerusakan itu harus didokumentasikan.

Apa Itu Black Box, Komponen Paling Dicari dalam Kecelakaan Pesawat? -  Tirto.ID

foto : iStock

Kemudian, ahli membuka rekaman dengan menggunakan alat pemotong atau peralatan khusus lainnya. Data yang sudah terbaca kemudian akan dikoordinasikan melalui jalur komunikasi yang aman, tidak menggunakan ponsel portabel dan yang lainnya.

Untuk mengunduh data hanya butuh waktu kurang lebih dua jam atau seminggu hingga data komplit. Dari situ bisa terlihat fakta dan data berupa koncisi cuaca, ketinggian, dan lokasi jatuhnya pesawat.

Data awal yang sudah terbaca tersebut disampaikan kepada pihak-pihak yang ada di tempat kejadian. Data yang didapatkan kemudian akan divisualisasikan dalam bentuk animasi agar mudah dipahami oleh orang awam. Namun, dalam proses pembuatan animasinya pun KNKT akan menggunakan data-dara dan informan-informan yang berkompeten untuk menunjang data yang ditunjukkan Black Box.

Sebelum dirilis, animasi harus diteliti terlebih dahulu. Langkah selanjutnya adalah laporan akhir yang berisi informasi tentang jenis black box yang dibaca, kerusakan (didokumentasikan), beserta metode ekstraksi data yang digunakan. 

Barulah data dan Animasi itu dapat dipublikasikan. (RIN)

Editor: Ririn
    Bagikan: