Jelang Pelantikan Joe Biden Bawa Angin Segar Terhadap Penguatan Rupiah di Level Rp14.045 Per Dolar AS

Jawa Barat —Rabu, 20 Jan 2021 13:27
    Bagikan:  
Jelang Pelantikan Joe Biden Bawa Angin Segar Terhadap Penguatan Rupiah di Level Rp14.045 Per Dolar AS
uang. foto Buka Riveuw

POSKOTAJABAR, BANDUNG

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat bersama dengan sejumlah mata uang lainnya di Asia. Penguatan ini diduga dipicu situasi politik di AS menjelang pelantikan Presiden terpilih Joe Biden pada 20 Januari 2021.

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 10.00 WIB, nilai tukar rupiah menguat 20 poin atau 0,14 persen ke level Rp14.045. Indeks dolar di sisi lain turun 0,15 persen ke posisi 90,363. Sementara mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS dipimpin won Korea Selatan yang menguat 0,30 persen.

Direktur Centre for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi yang dihubungi di Jakarta, Rabu (20/1/2021) menilai penguatan rupiah terhadap dolar AS  karena faktor eksternal situasi politik di AS menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS.

"Pelantikan Biden ini mendapatkan perlawanan dari pendukung Presiden AS Donald Trump sehingga menimbulkan ketidakpastian politik di sana, sehingga membuat dolar AS melemah," terang Uchok.

BACA JUGA : Banjir Bandang Menerjang Kawasan Puncak Bogor, 474 Warga Dievakuasi

Selain itu, lanjut Uchok, di AS situasi Covid-19 masih tinggi. Inilah yang menjadi pelaku pasar yang lebih memilih melepaskan dolar AS, sehingga berdampak penguatan nilai tukar mata uang di sejumlah Asia termasuk rupiah.

Terkait penguatan rupiah, Uchok juga mengatakan rencana Pemerintah Indonesia yang akan menerbitkan surat utang global atau global bonds dengan nilai minimal Rp35 triliun sampai Rp50 triliun.

"Ini menunjukkan adanya rencana menambah utang baru, dan tentu saja ini merupakan dana segar bagi Pemerintah sehingga berdampak positif pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," kata Uchok.

Seperti dikutip BBC, Pelantikan Presiden terpilih Joe Biden dan Wakil Presiden terpilih Kamala Harris berlangsung di tengah ancaman kekerasan dari kelompok pendukung Presiden Donald Trump, termasuk situasi AS masih dihadapkan kondisi pandemi. Kondisi krisis berlapis itu membuat situasi Ibu kota AS terasa mencekam bagi penduduknya. (johara/tha)

Editor: Ririn
    Bagikan:  


Berita Terkait