Bumi, Langit, Matahari

Opini —Rabu, 20 Jan 2021 15:00
    Bagikan:  
Bumi, Langit, Matahari
ilustrasi - foto by Unsplash

POSKOTAJABAR,BANDUNG

Dari jiwa-jiwa suci seterang bintang penyempurnaan selalu diberikan kepada bintang-bintang di langit.

Dari luar pengaturan kita diatur oleh bintang-bintang, padahal batin kitalah yang menjadi pengatur langit.

Oleh karena itu, sementara dari wujud engkau adalah mikrokosmos, pada hakikatnya engkau makrokosmos.

Membicarakan itu sumber buah; padahal ranting itu tumbuh demi buah.

Jikalau bukan karena mengharap buah, meski ia dihasilkan oleh pohon. [1]

 

Dalam beberapa bait puisi tersebut, Jalaluddin Rumi menggambarkan keterkaitan antara dimensi batin manusia (sebagai mikrokosmos) dengan alam semesta (sebagai makrokosmos). Apa yang ada di alam semesta merupakan gambaran dari apa yang ada pada diri manusia. Bahwa batin manusialah sebenarnya yang pembantuan. Di dua bait terakhir, Rumi sedang menggambarkan bahwa alam semesta diciptakan dan dipersiapkan untuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. Umat ​​muslim pun tentu tak akan lupa pada ayat Al-Quran tentang bagaimana Tuhan menampakkan ayat-ayat di ufuk dan ayat-ayat dalam diri ( nafs ) agar manusia tahu bahwa itu adalah  al-haqq . [2]

Bumi, Langit, Matahari


Pandangan kosmologi semacam ini hidup subur di masa lalu, namun seperti takhayul bagi kebanyakan manusia modern dan sudah lama ditanggapi. Gong resmi menerapkan konsepsi ini adalah semenjak abad ke-17, jelas Arthur Oncken Lovejoy, yaitu tatkala konsep  Great Chain of Being  atau realitas yang bertingkat-tingkat diruntuhkan. Diganti dengan konsep yang memandang bahwa yang nyata hanyalah realitas wadak ini serta dapat dikupas tuntas melalui sains. Awalnya ini hanya terjadi di Eropa. Lalu orang-orangutan kulit putih tersebut merasa memiliki SURYA ( orangutan kulit putih SURYA ) tinjauan untuk review memberadabkan bangsa-bangsa Lain Yang dipandangnya terbelakang.Maka disebarkanlah pandangan dunia (wadak) tersebut ke berbagai belahan bumi melalui penjajahan.


BACA JUGA: Spoiler True Beauty Episode 11 Hubungan Su Ho dan Seo Jun Akhirnya Membaik  


Tubuh, Jiwa, Ruh

 

Tak mudah memahami konsep mikrokosmos-makrokosmos tersebut sebab, memasuki Rumi nyatakan, ini hanya terbuka bagi “jiwa-jiwa suci seterang bintang”. Namun jika konsep ini ditelusuri lebih jauh, akan dijumpai bahwa di masa lalu yang disebut sebagai "diri" tubuh wadak ini, tapi "jiwa sebagai wujud hidup terpisah dari tubuh". Jiwa ini abadi, ada sebelum tubuh, dan akan tetap ada setelah tubuh mati. Konsepsi macam ini bisa dijumpai dalam ajaran agama-agama besar yang biasa kita kenal. Bahkan dalam ajaran filosofi Sōkratēs maupun Platōn. Akan tetapi di masa ini jiwa dipandang tidak lebih dari ilusi bentukan saraf dan otak. Adapun  personality  (kepribadian) adalah  persona  (“ topeng”, Bahasa Latin) yang dibentuk dari tumpukan berbagai pengalaman hidup sehingga manusia menjadi  person  (pribadi).


Kemudian, wujud ketiga yang tertukar-tukar dengan jiwa, yaitu ruh. Tak mengherankan masa ini, kebanyakan orang yang tahu jiwa = ruh "telah disinyalir Al-Ghazali 1000 tahun lalu. Maka, wujud seperti" daimón "atau ruh yang berbisik kepada Sōkratēs jika dia melakukan hal yang bukan bagiannya serta diam jika Sōkratēs melakukan sesuatu yang memang menjadi bagiannya, atau yang dalam Perjanjian Lama disebut  ru'ach , dalam Perjanjian Baru disebut  pneuma  atau  parakletos , dalam Al-Quran disebut ruh, kini tak lagi dikenal apa fungsinya. Ruh sering disebut, bahkan saat pemakaman, namun selalu tertukar dengan jiwa ( nafs ).


Wujud ketiga inilah yang menuntun Sōkratēs untuk menjalankan peran yang sesuai jati dirinya, yaitu  areté  atau keutamaannya. Sokrates mengumpamakan bahwa masyarakat yang memiliki keutamaan adalah daerah yang memotong rumput, dan bukannya menjadi gunting. Inilah yang disebut Sōkrat sebagai keadilan, yaitu bagaimana seseorang melakukan apa yang menjadi bagiannya dan tak mencampuradukkannya dengan bagian orang lain. Atau, dengan kata lain, menjalankan tugas sejatinya yang dicapai oleh pengenalan diri. Itulah mengapa para pembaca Platōn bisa menangkap bahwa inti dari filsafatnya adalah  kenali dirimu  ( gnōthi seauton ).Ingat, diri di sini adalah jiwa, jadi jati diri Anda itu kesalahan segala atribut di identitas atau di catatan instansi pemerintah.


Pengenalan diri ini akan mengantarkan manusia pada “apa misi hidupnya di muka bumi ini”. Khazanah ini bisa ditemukan di kitab suci agama-agama besar yang biasa kita kenal. Dalam agama Hindu (yang nama sebenarnya adalah  Sanatana Dharma ) dan juga Buddha dikenal istilah  dharma . Ide tentang  dharma  ini banyak dipaparkan dalam kitab  Bhagawad Gita , yang menginspirasi novel Steven Pressfield lalu difilmkan dengan judul  The Legend of Bagger Vance . Dalam Perjanjian Baru terlihat lebih jelas bagaimana setelah para  hawariyin mendapatkan roh kudus, mereka pun bisa berbicara dalam bahasa asing, seperti mengisyaratkan penugasan mereka ke daerah yang sesuai dengan bahasa yang mendadak mereka kuasai tersebut. Dalam khazanah Islam dikenal dengan istilah  fithrah  yang tak akan berubah, [3]  atau  ma'rifat  (mengenal diri dan mengenal Tuhan). Bahkan penelitian  etnoparenting  yang dimotori oleh Yeni Rachmawati, dosen UPI, menemukan bagaimana khazanah jati diri ini pun ada jejaknya dalam budaya-budaya lokal.


Namun, konsep jati diri semacam ini telah menghilang di era modern. Dalam pandangan para filsuf modern, manusia itu tak ubahnya Mr. Bean yang jatuh dari langit, entah dari mana dan mau ke mana, lalu luntang-lantung ke sana ke mari membuat heboh. Pandangan manusia di mata para filsuf modern itu bernuansa anti-esensialisme (manusia tak punya esensi apa pun) dan ateleologi (manusia hadir di bumi tanpa ada tujuan akhir apa pun). Michel Foucault, filsuf Prancis, terkenal bahwa ajaran ajaran Platon adalah “perawatan diri” ( epimeleia heautou ). Akan tetapi "diri" dalam pandangan Foucault yang krisis jiwa yang terpisah dari tubuh. Diri itu adalah tubuh. Maka dia mengajukan konsep konsep  estetika keberadaan, bahwa diri adalah karya kita, terserah kita dijadikan apa. [4]


Baca juga: Ramalan Zodiak Besok, Kamis 21 Januari 2021, Taurus Sedikit Sensitif, Leo Budak Cinta 


Demikian, membicarakan ihwal jati diri manusia di era modern yang bisa membuahkan label mematikan, yaitu esensialis. Seperti yang ditulis oleh Robert Jay Lifton dalam bukunya,  The Protean Self: Human Resilience in an Age of Fragmentation , manusia modern itu seperti sosok Proteus dalam mitologi Yunani, yang dikutuk oleh dewa Poseidon sehingga bisa berubah menjadi apa pun yang menjadi dirinya sendiri.


 BACA JUGA:  Disperdagin Kabupaten Bogor Fokus Terhadap Pembinaan IKM untuk Meningkatkan Iklim Usaha


Budaya, Peradaban, Semangat Zaman

 

Di tahun 1999, saya pernah membuat sebuah draft awal skripsi saat kuliah di FSRD ITB. Inti gagasannya bahwa konsep peradaban itu seperti tubuh, sedangkan budaya itu seperti jiwa, adapun semangat zaman ( zeitgeist ) itu adalah ruh yang mewarnai semangat suatu zaman. Jika ditelusuri, kata budaya berasal dari kata Sansekerta,  buddhayah  atau  bodhya , (jamak dari  buddhi ), yang berarti “ akal ”. Namun, mengingat bahwa di masa lalu antara tubuh dan jiwa dibedakan, maka  buddhi  adalah akal milik jiwa (bukan otak milik tubuh). Untuk itu diperlukan  buddha (dalam arti pencerahan di tataran jiwa) agar bisa didayagunakan. Awalnya budaya merupakan segala sesuatu yang hasil karya akal budi jiwa manusia.


Ilmu alam dan teknologi: PERKEMBANGAN PERADABAN MANUSIA AKAN PERKAKAS LOGAM DITANDAI OLEH PERIODE ZAMAN LOGAM

foto  By Blogspot

Begitu also di Dunia Barat, kata  budaya  Berasal Dari bahasa Latin,  cultura  maupun  kultus  (Dari akar kata  Colere ). Awalnya Suami Adalah kata Sifat Yang Berarti  Pemeliharaan  DENGAN konotasi seperti  pelatihanpemujaanpenghormatanpemujaan . Selain itu juga  pengelolaan tanah  atau  pengembangan tanaman ; lalu  kehalusan perilaku . Budaya  Makna semula berkembang menjadi keunikan adat atau kebiasaan dari tiap masyarakat yang dipandang sebagai kodrat dari Tuhan. Cicero, filsuf Romawi, menggunakan istilah  kultura animi , yaitu  pembudidayaan dan pengembangan hidup batin , atau juga  pengolahan jiwa . Di Eropa Abad Pertengahan, sembahyang juga disebut incredultura  Dei . Di Prancis abad ke-13, istilah  budaya yang  digunakan dalam  Pemesanan de l'esprit  atau  bangunan ruhaniah . Maka dikatakan bahwa manusia utama adalah manusia yang memiliki kultur.


BACA JUGA:  Anak Gugat Ayah Kandung Rp 3 M di Bandung, Sehari Sebelum Persidangan Sang Anak Meninggal


Dalam perkembangan berikutnya,  budaya  menjadi sinonim dengan  humanitas  yang membedakan manusia dari. Definisi budaya dalam bidang antropologi tak lagi mengembalikannya sebagai sesuatu yang muncul dari jiwa yang telah dimurnikan, tapi hasil terbaik dari pemikiran manusia yang membedakannya dari binatang. Menjelang akhir abad 20, budaya mulai didefinisikan sebagai interaksi komunikatif, yaitu perilaku yang dimediasi oleh simbol dan makna.


Setidaknya dari sini bisa terlihat tiga makna budaya. Kemunculan Pertama kalinya kata  cultura  maupun  kultus  ITU penekanannya LEBIH ditunjukan ditunjukan kepada jiwa Dan bersifat transendental. Begitu pula dengan kata  buddhayah  atau  bodhya . Ketika masuk era modern, kognitif kontrol, dan memang kognitif yang sering 'ditunjuk' sebagai jiwa di dunia modern. Di akhir 20, budaya implementasi sebagai sebentuk makna yang bersliweran di tengah masyarakat manusia. Penekanannya lebih sesuai dengan konteks dan tak harus berupa sesuatu yang adiluhung.


Berikutnya “ peradaban ” sebagai terjemahan dari  civilizatie  (Belanda) atau  civilization  (Inggris dan Perancis). Istilah ini berasal dari kata sifat  civilis  (Latin) yang mengacu pada  warga negara . Sedang kata  peradaban  berasal dari kata  adab  (Arab). Sebelum kedatangan Islam di jazirah Arab,  adab  diartikan sebagai ajakan makan atau undangan ke perjamuan makan. PADA masa Islam,  adab  digunakan sebagai  ajakan untuk meninjau dan berakhlak Baik , juga Pendidikan ATAU PENGAJARAN. PeradabanKata   (Prancis) memiliki akar kata  civilitas  yang sinonim dengan bahasa Latin, yaitu  urbanitas  atau kehidupan kota.

Editor: Resti
    Bagikan:  


Berita Terkait