Para Pedagang Daging Sapi Melanjutkan Aksi Mogok Jualan, Kios Daging Menjadi Sepi

Jawa Barat —Kamis, 21 Jan 2021 09:13
    Bagikan:  
Para Pedagang Daging Sapi Melanjutkan Aksi Mogok Jualan, Kios Daging Menjadi Sepi
Kios-kios pedagang daging Pasar Malabar banyak yang tutup. (toga)

POSKOTAJABAR, TANGSEL. 

Para pedagang daging di pasar-pasar melanjutkan aksi mogok jualannya. Sehingga, suasana kios-kios di los daging sapi menjadi sepi.  Di Pasar Malabar, Kota Tangerang susana sepi jelas terlihat. Hal itu akibat para pedagangnya melakukan aksi mogok jualan selama tiga hari, sebagai protes tingginya harga daging sehingg sepi pembeli. Suasana sepi pedagang daging juga terjadi di Pasar Leuwipanjang Kota Bandung.

Pemantauan POSKOTAJABAR, di Pasar Leuwipanjang Bandung, memang sedikit penjual daging sapi. Sehingga, harga daging pun menjadi naik sekitar 40 %. Daging sapi yang biasa dijual Rp 100 ribu, melonjak menjadi Rp 140 ribu.

BACA JUGA:  Polrestro Depok Musnahkan 46 Kg Sabu dari Kurir Jaringan Internasional, Dibuang ke Jamban WC

Seorang pedagang daging sapi di Pasar Malabar,  Jepri (40), mengaku ikut menutup kios dagangannya lantaran harga daging saat ini sangat tinggi. Ia berharap, agar aksi yang dilakukan beserta pedagang daging sapi lainnya dapat menjadi perhatian pemerintah dan harga kembali seperti semula. 

"Nikmatin aja, namannya juga ngikut kawan-kawan yang lain. Insya Allah rezeki ada. Mudah-mudahan didengar sama yang di atas (pemerintah) jangan sampai kaya gini (harga naik)," ujar Jepri, Rabu (20/01/2021). 

Jepri mengatakan, banyak masyarakat yang tidak mengetahui aksi mogok para pedagang daging sapi. Ia menuturkan, aksi tersebut sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga daging yang sangat membebankan pedagang maupun pembeli. 

BACA JUGA:  KPK Tahan Mantan Kepala BIG dan Pejabat LAPAN, Diduga Rugikan Negara Rp 179 Miliar

"Aksi ini dilakukan supaya harga turun karena pedagang keberatan. Sekarang (harga) Rp120 ribu sampai Rp130 ribu perkilogram, dari sebelumnya Rp110 ribu," jelasnya. 

Jepri mengatakan akibat kenaikan tersebut para pedagang mengalami penurunan penghasilan hingga 70%."Pokoknnya pedagang keberatan," katanya. (toga/win)

Editor: Setiawan
    Bagikan: