Lima Tahun Jadi Relawan Perlintasan Kereta Api, William Saputra Ingin Diangkat Jadi Karyawan

Gaya Hidup —Kamis, 21 Jan 2021 17:31
    Bagikan:  
Lima Tahun Jadi Relawan Perlintasan Kereta Api,  William Saputra Ingin Diangkat Jadi Karyawan
William Saputra memegang piagam penghargaan dari Dirut PT KAI saat upacara peringatan HUT PT KAI di Bandung. (foto:Yan)


POSKOTAJABAR, INDRAMAYU.

Banyak perlintasan kereta api di wilayah Daerah Operasi III Cirebon, Jawa Barat  yang  secara resmi belum berpintu,  seperti di perlintasan kereta api Cipedang Jubleg, Desa Jayamulya, Kecamatan Kroya, Indramayu, Jawa Barat.

Sejak kereta api di Pulau Jawa dioperasikan, perlintasan kereta api di Blok Cipedang Jubleg itu belum dipasang pintu. Padahal,  setiap saat banyak pengguna jalan yang hilir mudik di perlintasan itu. Untuk mengamankan jalur kereta api dari kecelakaan,  beberapa pemuda di Desa Jayamulya rela menjadi relawan. Tugas mereka mengamankan perjalanan kereta api,   sekaligus mengamankan  pengendara kendaraan bermotor maupun pejalan kaki.

William Saputra salah satunya. Pria ini sudah 5 tahun bekerja sebagai relawan di perlintasan kereta api Cipedang Jubleg. Ia berharap kepada jajaran Direksi PT KAI agar memperhatikan nasibnya sehingga diangkat menjadi karyawan PT KAI.

“Harapan Saya satu-satunya ingin sekali diangkat menjadi karyawan PT KAI,” ujarnya.


BACA JUGA : Longsor Menutup Akses Jalan Penghubung Tasikmalaya-Pangandaran Hingga Lumpuh Total

 

Walaupun statusnya sebagai relawan, namun William Saputra sudah pernah mengikuti Pendidikan dan Latihan (Diklat) Dasar-dasar Keselamatan Kereta Api selama 3 hari yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) dan dinyatakan lulus sehingga memperoleh sertifikat. William Saputra juga pernah memperoleh piagam penghargaan dari Dirut PT KAI Edi Sukmoro karena berhasil menyelamatkan nyawa penumpang kereta api yang terluka parah akibat terjatuh dari luar gerbong saat merokok.

Sebagai relawan perlintasan kereta api, tugas dan tanggung jawab William Saputra atau akrab disapa Willi Portal memang tidak ringan. Setiap saat mata mereka tidak boleh lengah apalagi sampai mengantuk. Karena harus stand by mengawasi pergerakan kereta api juga kendaraan bermotor atau pejalan kaki  yang hendak melewati perlintasan kereta api.


BACA JUGA : PPKM di Perpanjang, Berlaku 26 Januari-8 Februari

 

Sepanjang karirnya sebagai relawan, William Saputra mengalami dua kali peristiwa besar yang tidak mungkin lekang dari ingatannya. Peristiwa pertama,  ketika berusaha mencegah pengemudi mobil Daihatsu Terios  yang terlihat memaksa ingin menyeberangi  perlintasan kereta api di KM 143+1 Desa Jayamulya Blok Cipedang Jubleg. Padahal William Saputra saat itu melihat ada laju kereta api Jayabaya arah Jakarta – Cirebon sudah dekat. Akibatnya mobil Terios mengalami musibah  tertabrak sehingga pengemudi beserta seluruh penumpangnya tewas pada Sabtu (29/6/2019).

Peristiwa besar lainnya, ujar William Saputra saat berhasil menyelamatkan nyawa seorang pria penumpang kereta api yang terjatuh saat merokok di luar gerbong. Kondisi korban mengalami luka-luka parah. “Yang membuat saya panik pada saat yang sama saya melihat ada  kereta api dari arah timur yang akan melintas. Saya buru-buru lari sekuat tenaga berjarak sekitar 400 meter memindahkan tubuh korban yang posisinya Saya lihat persis berada di tengah rel agar selamat dari terjangan  kereta api,” ujarnya.


BACA JUGA : Potongan Tubuh Diduga Korban Sriwijaya Air Ditemukan Warga di Pantai Kiss

 

Tubuh korban yang terluka walaupun dengan susah payah berhasil diangkat dan dipindahkan menjauh dari rel.  Usai memindahkan  korban  menghubungi petugas Polsuska. “Petugas Polsuska menyarankan agar saya minta  bantuan mobil dinas kepala desa untuk mengevakuasi korban. Dengan mobil dinas kepala desa korban dibawa  ke klinik Al-Irsyad di Haurgeulis. Alhamdulillah korban sampai di klinik dan ditangani secara medis sehingga nyawanya terselamatkan. Saya dapat kabar dari kerabat korban di Desa Wanguk, Kecamatan Anjatan bahwa kondisi korban berangsur-angsur sehat seperti semula,” ujarnya.

Beberapa waktu pasca menolong penumpang kereta api  yang terjatuh itu, William Saputra tiba-tiba mendapat undangan dari PT KAI guna menghadiri upacara peringatan HUT PT KAI ke-74 di kantor pusat PT KAI di Bandung pada bulan September 2019.

“Saya berangkat ke Bandung dengan tanda tanya. Sampai di sana,  di luar dugaan, Saya mendapat ucapan terima kasih dan sebuah amplop berisi uang tunai dari Dirut PT KAI Pak Edi Sukmoro. Saya juga mengucapkan terima kepada orang nomor satu di perusahaan kereta api itu karena sudah mengundang Saya dan sehingga  bisa bertemu dan  bersalaman langsung,” ujarnya.


BACA JUGA : Mayat Bayi Perempuan Ditemukan Warga di Saluran Irigasi Sukaraharja Kabupaten Tasikmalaya

 

Banyak suka duka dialami William Saputra sebagai relawan perlintasan kereta api. “Sukanya,  kalau berhasil membimbing pengguna jalan menyeberangi perlintasan kereta api dengan selamat. Dukanya,  sering dimarahi masyarakat, terutama ibu-ibu,  kalau Saya dan rekan-rekan telat datang di perlintasan kereta api Cipedang Jubleg,” ujarnya.  

 Perjuangan William Saputra belum usai. Ia bersama ke-5 rekannya masih terus melanjutkan tugas  sebagai relawan menjaga keselamatan perjalanan kereta api juga pengendara dan pejalan kaki. “Ada secercah  harapan dari Saya, mudah-mudahan  Direksi PT KAI memperhatikan nasib Saya dan rekan-rekan sehingga diangkat menjadi karyawan PT KAI,” ujarnya. (Yan)   



BACA JUGA :Satgas Anti Rentenir Kota Bandung Fasilitasi dan Berikan Solusi Kepada Para Korban

  

 

Editor: Suherlan
    Bagikan:  


Berita Terkait